Berita Kabupaten Banjar

Berkat Budidaya Nila, Penyuluh Kabupaten Banjar ini Sukses Kuliahkan Anak di STPDN

Meski telah berstatus pegawai negeri sipil (PNS), namun Aidi Royansyah tak lantas berbangga hati. Apalagi berpuas diri.

Berkat Budidaya Nila, Penyuluh Kabupaten Banjar ini Sukses Kuliahkan Anak di STPDN
OYAN UNTUK BANJARMASINPOST.CO.ID
Oyan menaburkan pakan di kolam jala apungnya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Meski telah berstatus pegawai negeri sipil (PNS), namun Aidi Royansyah tak lantas berbangga hati. Apalagi berpuas diri.

Penyuluh senior Kabupaten Banjar yang kini menjabat kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Karangintan ini terus bekerja dan bekerja. Selepas menunaikan tugasnya, ia mengelola ikan nila yang dibudidayakannya menggunakan jala apung.

Lumayan lama lelaki yang akrab disapa Oyan ini menjalankan usaha sampingan itu, sejak sekitar 2000-an silam. Teknis pengelolaannya lebih dominan ditangani sang istri, Nurmaidah.

Di tempat tinggal mereka di Desa Malimali, Kecamatan Karangintan, Nurmaidah bahkan dikenal sebagai ibu rumah tangga yang piawai membudidayakan ikan nila. Karena itu pula ia dipercaya menjadi ketua kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) Sumber Harapan.

"Alhamdulillah hasilnya lumayan, bisa untuk menguliahkan kedua anak saya. Yang sulung sudah lulus STPDN dan sudah bekerja di Prmkab Banjar. Yang bungsu Februari ini wisudanya," ucap Oyan, Senin (11/02/2019).

Ia menuturkan sejak remaja memang hobi berwiraswasta. Karena itu setelah menjadi pegawai pemerintah, ia tetap menyalurkan bakatnya itu bersama sang istri.

Baca: Nyasar ke Rumah Warga Batola, Satu Bekantan Kembali Diselamatkan, Evakuasi Minggu Depan

Baca: Ahmad Dhani Tulis Surat Dari Rutan Usai Dijenguk Mulan Jameela, Eks Maia Estianty Tak Jalani Vonis

Baca: Kurir 2 Kilo Sabu Mengaku Hanya Diupah Rp 200 Ribu, Tapi Fakta Sesungguhnya Diungkap BNNP

Lantaran tempat tinggalnya berdekatan dengan sungai, ia pun memilih membudidayakan ikan. Awalnya, ia membudidayakan ikan nila menggunakan keramba apung.

Oyan menaburkan pakan di kolam jala apungnya.
Oyan menaburkan pakan di kolam jala apungnya. (OYAN UNTUK BANJARMASINPOST.CO.ID)

Namun kemudian merugi besar pada 2006. Seluruh kerambanya (16 unit) hancur diterjang derasnya arus sungai kala itu ketika intensitas curah hujan sangat tinggi. "Miliaran rupiah saya rugi saat itu. Maklum, biaya bikin kerambanya saja kan mahal karena terbuat dari kayu ulin," tutur Oyan.

Sejak itu, ia mengganti pola budidaya dengan beralih ke jala apung yang lebih efsien. Sejak itu pula usahanya berkembang dan terus berkembang hingga kini ia memiliki 15 unit jala apung yang masing-masing berukuran 7x7 meter. Isinya tak kurang 30 ribu ekor nila.

Bibit ikan nila ia beli dari Balai Pembibitan Ikan di Banjarbaru. Usia empat bulan telah biaa dipanen. Sekilo sekitar empat ekor yang besarnya seukuran empat jari. Saat ini harga nila cukup tinggi yakni Rp 36 ribu per kilogram. Setidaknya dalam sebulan ia dapat sekitar Rp 9 juta.

Halaman
12
Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved