Berita Banjarbaru

Lima Orang Meninggal Akibat Gigitan Nyamuk Aedes Aegypti, Jumlah Terbanyak Ada di Kota Banjarbaru

Sudah ada lima orang warga Kalimantan Selatan meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti pembawa penyekit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Lima Orang Meninggal Akibat Gigitan Nyamuk Aedes Aegypti, Jumlah Terbanyak Ada di Kota Banjarbaru
banjarmasinpost.co.id/ibrahim ashabirin
Senin (17/12/2018) sore di RSUD Datu Sanggul Rantau, ada 11 orang anak yang dirawat akibat penyakit demam berdarah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Sudah ada lima orang warga Kalimantan Selatan meninggal akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti pembawa penyekit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sementara jumlah korban meninggal dunia terbanyak terdata ada di Kota Banjarbaru dengan tiga korban meninggal. Lalu disusul Kabupaten Tapin dan Tanahlaut dengan masing-masing satu kasus meninggal dunia.

Untuk menekan jumlah korban, Kota Banjarbaru masuk ring siaga atau berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Muslim, melalui Kabid P2PL Dinkes Kalsel Syahriani memaparkan peningkatan jumlah korban meninggal itu karena pengaruh musim hujan. "Hingga kini DB masih stabil dan perlu pengedalian, dan diprediksi hujan akan semakin merata," katanya.

"Kita bersama dinkes kabupaten/kota menghimbau pengendalian Vektor DBD dengan 3M Plus, yakni menguras bak air 1 minggu sekali untuk memutus rantai siklus hidup nyamuk DBD, Menutup tempat air, mendaur ulang barang bekas, plus Menghindari gigitan nyamuk," kata Syahriani.

Baca: Mulan Jameela Jenguk Ahmad Dhani Pakai Mercedez Benz, Postingan Eks Rekan Duet Maia Estianty Disorot

Baca: BREAKING NEWS - Diimingi Uang Rp 1000, 2 Bocah di Tanahbumbu Dicabuli Mbah, Korban Diintimidasi

Baca: Jadwal Babak 16 Besar Piala Indonesia, Persib Bandung vs Arema FC, Laga Persija Belum Ditentukan

Baca: Didatangi Tim Jaguar Banjarbaru, Pemiliki Tiga Dara Buru-buru Lunasi Tunggakan Pajaknya

Dari data rekapan sementara per Januari 2019, jumlah paling banyak ada di banjarbaru sebanyak 140 kasus dengan tiga kasus meninggal dari bulan Oktober 2018 hingga Januari. Posisi kedua yakni di Kabupaten Banjar yakni sebanyak 108 kasus, dan ketiga yakni di Tabalong sebanyak 76 kasus.

Disebutkan dia, konsekuensi jika daerah menetapkan KLB di mana pendanaan pasien DBD ditangani Pemkab atau Pemko setempat. "Untuk BPJS tidak masuk kalau KLB, karena daerah yang akan menanggungnya," kata Syahriani.

Merebaknya Kasus demam berdarah di Kota Banjarbaru membuat sejumlah instansi Kota Idaman bergerak. Selain dari Dinas Kesehatan yang sudah all-out sosialisasi dan penanganan DBD, kini juga ada dari Dinas Pendidikan yang melakukan gerakan.

Disdik Kota Banjarbaru malah membuat surat edaran kepada kepala Sekolah di semua jejang baik SD, TK PAUD dan sesjenisnya untuk bisa memberishkan jentik-jentik dan kuras genangan iar yang ada di lingkungan agar sarang nyamuk bisa punah dan tidak bisa membesdar dan menyerang ke manusia.

(banjarmasinpost.co.id/lis)

Penulis: Nurholis Huda
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved