Opini Publik

Disorientasi Pendidikan Kita

Preseden buruk dan ironi kembali menimpa dunia pendidikan kita. Berita ini datang dari kota Gresik, Jawa Timur, tepatnya di SMP PGRI Wringinanom

Disorientasi Pendidikan Kita
Instagram @fakta.indo
Seorang siswa menantang dan melawan guru di Gresik terekam dan video tersebut diunggah oleh akun @makassar_iinfo pada Sabtu (9/2/2019). 

Oleh: MOH. YAMIN
Penulis buku-buku pendidikan

Preseden buruk dan ironi kembali menimpa dunia pendidikan kita. Berita ini datang dari kota Gresik, Jawa Timur, tepatnya di SMP PGRI Wringinanom. Dalam kronologi kejadian melalui videoyang sempat viral tersebut, seorang siswa berinisial AA (15) ditegur sang guru, Nur Khalim (30) karena merokok dalam kelas. Merasa tidak terima atas teguran sang guru, AA kemudian melakukan perlawanan balik dengan menoyor kepala dan memegang leher guru. Itu dilakukan lebih dari satu kali.

Masih dalam video tersebut, tidak ada perlawanan sama sekali dari sang guru dan dia hanya diam serta terdiam, seolah secara sengaja membiarkan apa yang dilakukan si siswa kepada sang guru (02/02/18). Entah apa yang melandasi sikap diamnya itu, apakah khawatir ketika melakukan tindakan balik kepada si siswa, ini dapat mengubah posisi kejadian dari “siswa menganiaya guru” menjadi “guru menganiaya siswa”. Mungkin jawaban sementara adalah itu.

Terlepas setelah preseden buruk video itu menjadi viral dan jajaran pemerintah daerah setempat secara sigap mengambil sikap tegas, termasuk aparat kepolisian dengan cepat memanggil siswa AA, orang tua siswa, sang guru, didampingi perwakilan PGRI, Dinas Pendidikan dan pihak terkait untuk menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan yang berakhir dengan damai (http://jatim.tribunnews.com), ini tetap menjadi sebuah preseden buruk dalam dunia pendidikan kita.

Potret penyelenggaraan pendidikan bagi pembangunan karakter anak didik yang beradab tampaknya sedang mengalami anomali. Praksis pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan sikap hormat, tawadu, dan nilai-nilai bajik lainnya kepada anak didik tidak mampu dilakukan dengan sedemikian rupa.
Proses pendidikan yang mengenalkan kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan kebajikan dalam kehidupan anak didik mengalami kendala sangat luar biasa.
Apabila dimunculkan sebuah pertanyaan, siapakah yang bersalah dalam konteks sikap ketidakterpujian anak didik kepada sang guru di sekolah ini, maka jawabannya bisa beragam. Sekolah dimana guru dalam konteks ini bukan menjadi pihak yang harus bertugas sepenuhnya untuk menanamkan karakter baik dan bijak kepada para anak didiknya.

Sejumlah insiden buruk para guru yang berujung kepada hukum karena guru dianggap bertindak aniaya dan kasar kepada anak didik padahal niatnya adalah untuk membangun kedisiplinan dan nilai-nilai bajik lainnya menjadi fakta nyata mengapa guru kemudian menjadi lebih hati-hati dalam melakukan tugas pendidikan dan pendidiknya di sekolah.

Guru ke depan tidak mau masuk ke dalam jurang yang sama sebab harus berurusan dengan hukum. Guru lebih baik mundur dalam satu langkah untuk mengamankan “nasib dirinya”dengan tidak berlebihan berinteraksi dengan siswa dalam kelas agar tidak terjerat kasus hukum karena dipandang sudah melakukan kekerasan terhadap anak didiknya. Bertindak berlebihan kepada siswa dengan tujuan untuk membentuk kesadaran disiplin dan lain seterusnya adalah tindakan dan sikap yang perlu dijauhi oleh para guru.

Dalam konteks yang sudah menjadi kenyataan dimana AA bersikap tidak santun dan tidak terpuji kepada sang guru tidak bisa seutuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Kita setuju bahwa kehadiran sekolah bagi para anak didiknya menjadi ruang untuk berproses diri, melakukan penguatan kehidupan agar menjadi orang dewasa, pembangunan kemandirian, penciptaan kesadaran diri agar menjadi subjek-subjek diri yang beradab, dan begitu seterusnya.

Sekolah menjadi rumah kedua setelah keluarga, namun bukan berarti sekolah menjadi “rumah sakit” yang bertugas menyembuhkan kebiasaan-kebiasaan buruk para anak didiknya. Kehidupan pendidikan anak, terutama untuk pembangunan karakter bukan menjadi tanggung jawab seutuhnya para guru di sekolah, namun peran keluarga menjadi penting untuk dimaksimalkan.

Apabila ada anak didik dengan sikap dan pandangan hidupnya di sekolah yang mengalami penyimpangan secara sikap dan moral, ini perlu menjadi tanggung jawab orangtua yang dikerjasamakan penanganannya bersama sekolah. Pemaknaan dikerjasamakan dalam penanganan adalah orangtua bersama sekolah perlu membangun persepsi yang sama dalam konteks pendidikan dan proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved