Berita Banjar

Daftar 4 Bahan Makanan di Pasar Martapura yang Ditemukan BPOM Banjarmasin Ada Zat Berbahaya

Daftar 4 Bahan Makanan di Pasar Martapura yang Ditemukan BPOM Banjarmasin Ada Zat Berbahaya

Daftar 4 Bahan Makanan di Pasar Martapura yang Ditemukan BPOM  Banjarmasin Ada Zat Berbahaya
banjarmasin post group/ idda royani
POSITIF - Petugas BPOM Banjarmasin memperlihatkan salah satu bahan pangan yang positif mengandung bahan berbahaya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Daftar 4 bahan makanandi Pasar Martapura yang ditemukan BPOM  Banjarmasin mengandung zat berbahaya

Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Banjarmasin melakukan pengujian sampel bahan pangan/makanan di Pasar Batuah Martapura dan sekitarnya, Kamis (14/02/2019) pukul 09.00 Wita.

Setelah diuji menggunakan alat dan bahan khusus, beberapa bahan makanan terdeteksi mengandung zat atau bahan kimia berbahaya terhadap kesehatan manusia.

Sebanyak 35 jenis sampel bahan pangan yang diuji pada kegiatan yang difasilitasi Dinas Kesehatan Banjar dan Perusahaan Daerah Pasar Batuah tersebut. Pelaksanaan pengujian sampel dilakukan di halaman Pasar Blauran di dekat terminal angkutan kota setempat.

Baca: Reaksi Tak Terduga Iriana Jokowi Saat Mobil Presiden Joko Widodo Diadang Massa Pendemo

Baca: Respons Juliana Moechtar Saat Dijodohkan dengan Ifan Seventeen untuk Gantikan Dylan Sahara

Baca: Surat Ahmad Dhani ke Wanita Lain Selain Mulan Jameela dan Maia Estianty Saat Dipenjara, Curhat?

Baca: Daftar Tokoh Pendukung Prabowo yang Alih Dukungan ke Jokowi Jelang Debat Capres Kedua Pilpres 2019

Antara lain sampel bahan pangan yang diambil dan diperiksa antara lain pentol, tahu bakso, mi olahan, mi yamin, terasi, cumi-cumi, ikan kering telang, udang papai, pempek, lontong, ketupat, cincau, mutiara merah, ikan peda, biji nangka ,ikan selar, ikan lajang, kerupuk, opak. Ada pula bahan cair seperti bumbu masak (merah, kuning, kareh, rawon, sop), mutiara merah,cincau, minuman segar atau sirup dan saus bakso.

Setelah sekitar setengah jam melakukan pengujian terhadap 35 sampel bahan pangan tersebut, petugas BPOM Banjarmasin mengumumkan ada empat sampel yang positif mengandung bahan berbahaya.

"Terasi mengandung rodamin, cumi-cumi basah mengandung formalin, opak gandung mengandung boraks, dan bleng (pengembang) mengandung boraks," beber Sabir, pemeriksa dari BPOM Banjarmasin.

Didampingi empat rekannya, Sabir menuturkan terasi tersebut produksi dari Kabupaten Tanahlaut. "Kalau bahannya tak masalah. Hanya saja pada proses pembuatannya si produsen menaburkan rodamin yang merupakan pewarna tekstil atau tikar. Ini yang tidak diperbolehkan," sebutnya.

SOSIALISASI - Petugas BPOM Banjarmasin didampingi Dirut PD Pasar Bauntung Bartuah Rusdiansyah menyosialisasikan hasil uji sampel bahan pangan kepada kalangan apedagang di Pasar Blauran, Martapura, Kamis (14/02/2019). Mereka diminta menghindari penggunaan bahan pangan yang mengandung bahan berbahaya.
SOSIALISASI - Petugas BPOM Banjarmasin didampingi Dirut PD Pasar Bauntung Bartuah Rusdiansyah menyosialisasikan hasil uji sampel bahan pangan kepada kalangan apedagang di Pasar Blauran, Martapura, Kamis (14/02/2019). Mereka diminta menghindari penggunaan bahan pangan yang mengandung bahan berbahaya. (banjarmasin post group/ idda royani)

Sementara itu cumi-cumi basah yang diuji tersebut dipastikan bukan berasal dari hasil tangkapan nelayan Kalsel. "Kami sudah sering melakukan pengujian sampel cumi-cumi seperti di Tanahlaut dan Kotabaru dan jenis cuminya tidak seperti sampel ini. Jadi, kami pastikan cumi sampel ini berasal dari luar Kalsel. Kalau cumi hasil nelayan lokal aman tanpa pengawet formalin," tegasnya.

Dikatakannya, formalin memang efektif untuk mengawetkan ikan tangkapan hasil melaut karena cukup membawa sebotol kecil ukuran sekitar 10-20 mililiter. Namun jika mengawetkan secara alami menggunakan es batu, diperlukan jumlah banyak dan berat memboyongnya ke laut. "Nah, biasanya karena faktor seperti itu yang memicu orang memakai formalin, tapi perbuatan seperti itu dilarang," tandas Sabir.

Sementara itu penggunaan boraks seperti pada opak gandum dan bleng atau bahan pengembang makanan karena bisa mengembangkan atau memekarkan bahan menjadi berukuran besar berlipat ganda dari ukuran semula. Contohnya opak yang mengembang hingga berdiameter belasan sentimeter.

POSITIF - Petugas BPOM Banjarmasin memperlihatkan salah satu bahan pangan yang positif mengandung bahan berbahaya.
POSITIF - Petugas BPOM Banjarmasin memperlihatkan salah satu bahan pangan yang positif mengandung bahan berbahaya. (banjarmasin post group/ idda royani)

Sabir mengatakan hasil pengujian sampel bahan pangan tersebut selanjutnya akan diserahkan ke Dinas Kesehatan Banjar dan PD Pasar Batuah. Diharapkan ditindaklanjuti seperti pembinaan agar kalangan pedagang di Martapura tak lagi menjual barang yang mengandung bahan berbahaya tersebut.

Sementara itu, selama proses pengujian sampel bahan pangan berlangsung, kalangan pedagang makanan dan minuman dan lainnya tetap beraktivitas seperti biasa. Hanya ada beberapa orang saja yang datang mendekat dan menanyakan kegiatan tersebut. Setelah mendapatkan penjelasan, mereka manggut-manggut. "Oh, bagus saja ada pemeriksaan makanan supaya semua yang dijual pedagang di sini sehat," ucap Anang, pengunjung pasar.

(banjarmasinpost.co.id/ idda royani)

Penulis: Idda Royani
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved