Opini Publik

Perayaan yang Menyimpang dari Makna Kasih Sayang

Dewasa ini, Valentine Day nampaknya sudah menjadi bagian hidup remaja modern. Tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari Valentine Day dianggap

Perayaan yang Menyimpang dari Makna Kasih Sayang
banjarmasinpost.co.id/net
Penolaka Valentine Day di Surabaya. 

Oleh: Masroliyan Nor MPd, Guru Madya MAN 2 Balangan

Dewasa ini, Valentine Day nampaknya sudah menjadi bagian hidup remaja modern. Tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari Valentine Day dianggap hari yang sakral untuk mengungkapkan rasa kasih sayang sepenuh hati kepada orang-orang yang dicintai. Sebagai ungkapan kasih sayang itu, berbagai atribut yang bergambar hati mulai dari gantungan kunci, kado, kartu ucapan hingga kue-kue marak dipasaran, mall, hotel, villa dan sebagainya.

Ada fenomena di hari itu pasangan muda-mudi yang tengah kerajingan cinta saling mengungkapkan cinta, bermesraan, dan suka cita di tempat-tempat romantis yang telah mereka persiapkan. Di hari itulah sang pacar harus rela menyerahkan tanda cinta termasuk ‘keperawanannya’ demi kasih sayang yang langgeng.

Valentine Day sudah menyimpang dari makna kasih sayang. Sebuah penyesatan bagi remaja modern, seolah-olah kasih sayang hanya tertumpah dalam satu hari dan hari-hari berikutnya boleh berbuat sekehendak hati saja. Apalagi dengan memperhatikan cara-cara remaja merayakannya sungguh jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Melihat dari segi historis Valentine Day dan fenomena remaja yang terlalu berlebihan dalam merayakannya, tentunya hati kita akan miris melihatnya. Sebagai seorang muslim, tidak sepantasnya kita menjadikan tanggal 14 Pebruari sebagai hari berkasih sayang, apalagi sampai dibungkus dengan seks bebas di kalangan remaja kita.

Bila kita perhatikan dalam kehidupan dunia modern seperti sekarang ini, kita melihat banyak terjadi krisis keteladanan, kharisma, atau wibawa, baik dalam rumah tangga, dalam masyarakat sekitar kita, maupun dalam lingkungan tempat kita bekerja.

Bila kita telah kehilangan wibawa, kharisma telah lenyap, dan keteladanan sudah tidak ada, akibatnya apa yang kita sampaikan cuma didengar oleh telinga saja, sedangkan hati mereka tidak menerimanya, ucapan kita hanya melintas di telinga mereka karena yang kita sampaikan pun sebatas ucapan saja.

Karena itu kita harus mampu mencontoh Rasulullah SAW di dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21-22 yang artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukkan”. (Qs. Al-Ahzab : 21-22).

Kehadiran Rasulullah SAW benar-benar suatu rahmat tersendiri bagi kehidupan makhluk apapun di muka bumi ini, khususnya manusia karena Beliau telah membawa perubahan di dalam segi kehidupan manusia menuju kepada kebaikan yang di ridhai oleh Allah swt.

Dalam Islam, makna kasih sayang itu adalah hal yang universal. Hal ini berkaitan dengan sifat rahman dan Rahim Tuhan kepada hamba-Nya. Setiap umat Islam tidak harus menjadikan hari, minggu, bulan atau tahun dalam merayakan kasih sayang. Setiap saat kita bisa memberikan kasih sayang tersebut kepada semua makhluk Tuhan di muka bumi ini.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved