Taniran Kampung Paurutan di HSS

Menguak Kisah Tukang Pijat Legendaris Spesialis Patah Tulang HSS, Disebut-sebut Terkenal Sejak 1970

Letaknya di Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, sekitar delapan kilometer dari Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Menguak Kisah Tukang Pijat Legendaris Spesialis Patah Tulang HSS, Disebut-sebut Terkenal Sejak 1970
Repro Foto Milik Keluarga Almarhum H Jinawi ahli
Almarhum H Jinawi ahli pijat patah tulang dari Desa Taniran yang terkenal di era tahun 60an hinga 80-an saat memijat salah satu anak patah tulang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Menyebut Desa Taniran, tentu orang mengenal Makam Al Alamah Syekh h Sa’Dudin (HM Tayib) atau datu Taniran.

Letaknya di Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, sekitar delapan kilometer dari Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Namun selain terkenal dengan makam datu bersejarah itu, desa ini juga memiliki sejarah di bidang paurutan (ahli pijat).

Taniranpun akhirnya dikenal dengan kampung Paurutan, hal itu tak lepas dari terkenalnya seorang ahli pijat tulang bernama almarhum H Jinawi, yang sangat legendaris, sekitar tahun 60-an hingga 80-an.

Banyak pasien patah tulang yang berhasil sembuh ketika menderita patah kaki, tangan atau bagian tubuh lainnya, setelah dipijat H Jinawi.

Baca: Warga NTT Kaget Campur Takut! Ayam Baru Disembelih, di Hatinya Muncul Tulisan 2020 dan 10D2E01

Baca: Iriana Istri Jokowi Menangis Mendengar Cerita Ibu Ini, Mobil Presiden Dihadang Pendemo yang Lapar

Baca: Sama-sama Kesepian Akibat Tsunami, Juliana Moechtar-Ifan Seventeen Dijodokan, Juliana Merasakan Ini

Penelusuran banjarmasinpost.co.id, saat menanyakan rumah keluarga almarhum, hampir semua masyarakat setempat, baik tua maupun muda mengenalnya.

Bahkan wargapun dengan lancar menceritakan sosok H Jinawi yang meninggal dunia pada 3 Februari 1981 atau Rabiul Awal 1401 Hijriah tersebut.

Menurut warga, sosok H Jinawi selain ahli pijat tulang, juga seorang tokoh masyarakat yang ringan tangan menolong orang lain.

Tak hanya warga sekampung, tapi juga warga kampung lain. Bahkan warga di luar Kabupaten mempercayakan pengobatan ke H Jinawi.

“Beliau selalu rela menolong tanpa liat waktu. Saat tengah malam pun kalau ada yang membutuhkan, beliau bersedia mengobati,”kata Rahmah, warga Taniran Kubah.

Selama menjalankan keahliannya itu, almarhun menurut warga tak pernah minta bayaran, maupun pasang tarif. Bahkan sering menolak diberi imbalan.

“Satu hal yang saya tahu, setiap kali ada pasien yang melaksanakan pengobatan pijat, beliau selalu mengingatkan, bahwa yang maha kuasa menyembuhkan itu Allah Ta’ala. Bukan tukang pijatnya. Jadi kalaupun sembuh, pastinya atas izin Allah dan pasien diajak berdoa memohon kepada Allah. Itu yang selalu beliau tekankan ke pasien,” kenang Rahmah.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved