Fikrah

Menggapai Kenyamanan Dunia

NYAMAN dunia akhirat dalam bahasa Alquran, disebut Hayatan Thayyibah (kehidupan yang baik), yang menjadi dambaan siapapun. Menurut Islam, kehidupan

Menggapai Kenyamanan Dunia
Net
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Prov Kalsel

NYAMAN dunia akhirat dalam bahasa Alquran, disebut Hayatan Thayyibah (kehidupan yang baik), yang menjadi dambaan siapapun. Menurut Islam, kehidupan ada dua, yaitu: sekarang bersifat sementara (dunia), dan yang akan datang bersifat abadi (akhirat).

Allah berfirman, “Man amila shaalihan min dzakarin wa untsa wa huwa mu’minun falanuhyiyannahuu hayaatan thayyibatan, walanajziyannahum ajrahum bi ahsani maa kaanuu ya’maluun.” Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS16/97).

Lewat ayat ini dapat dipahami, bahwa Allah memberikan kehidupan yang baik di dunia dengan iman dan amal saleh, ini yang harus kita gapai; dan di akhirat pahala yang jauh lebih baik dari yang dikerjakan di dunia, ini yang kita tanai.

Kehidupan yang baik di dunia adalah rezeki yang halal disertai qana’ah (merasa cukup dan puas). Tanpa qana’ah hidup tidak nyaman, karena akan selalu bergejolak untuk menumpuk dunia (harta, tahta dan wanita), tidak pernah merasa puas bagai minum air laut yang asin, tambah diminum tambah haus.

Itulah profil manusia tidak beriman kepada Allah atau lupa kepada-Nya. Nabi SAW bersabda, “Qad aflaha man aslama wa ruziqa kafaafaa wa qanna’ahullaahu bimaa aataahu.” Artinya; Beruntunglah seseorang yang memeluk Islam, diberi kecukupan rezeki dan Allah jadikan ia qana’ah dengan apa didatangkan kepadanya (HRMuslim).

Nabi SAW berdoa, “Allaahumma qanni’nii bimaa razaqtanii wa baarik lii fiihi wa akhlif alaa kulli gaa’ibatin lii bikhairin.” Artinya; “Ya Allah cukupkanlah rezeki yang Engkau berikan kepadaku dan berkahilah ia, gantikan apa yang hilang dari-padaku dengan kebaikan.”

Ada tiga tipe manusia dalam menghadapi dunia; Pertama, dunia harus dijauhi, karena penghalang ibadah, ia adalah jifah (bangkai). Kedua, rakus (tamak), dunia diraup tanpa batas. Ketiga, mengambil kehalalannya dan menggunakan pada jalan yang benar (akhdzul halal wa infaquhi fi mahallihi).

Dunia manis dan hijau, ujaran Nabi SAW maksudnya gemerlap dan menarik. Inilah jerat Iblis menjerumuskan manusia ke jurang kebinasaan.

Abu Umamah RA bercerita, ketika Nabi Muhammad SAW telah diangkat menjadi Rasul, para tentara Iblis datang menghadap Iblis melaporkan bahwa telah dibangkitkan seorang nabi dan telah terbentuk satu umat penyembah Allah.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved