Berita Internasional

Polemik Wanita Cantik Shamima, Dicuci Otaknya Oleh ISIS, Mau Pulang ke Inggris Jadi Kontroversi

Kisah Shamima Begum, remaja yang ingin pulang ke Inggris setelah empat tahun bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menuai reaksi

Polemik Wanita Cantik Shamima, Dicuci Otaknya Oleh ISIS, Mau Pulang ke Inggris Jadi Kontroversi
PA via BBC
Shamima Begum ketika berusia 15 tahun sebelum meninggalkan Inggris dan bergabung dengan ISIS pada 2015. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, LONDON - Kisah Shamima Begum, remaja yang ingin pulang ke Inggris setelah empat tahun bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menuai reaksi beragam.

Dal Babu misalnya. Mantan Kepala Pengawas Kepolisian Metropolitan berkata, Shamima merupakan korban dari upaya cuci otak.

"Harus diingat bahwa Nona Begum sudah mendapat pengaruh sejak kecil untuk menjadi perempuan radikal," ulasnya dilansir BBC Kamis (14/2/2019).

Lord Carlile, mantan peninjau legslasi terorisme mengungkapkan, Shamima harus diterima kembali di Inggris jika dia tak menjadi warga negara manapun.

Sebab berdasarkan hukum internasional, Carlile menjelaskan sangat sulit jika seseorang harus dibiarkan tanpa kewarganegaraan.

Sir Peter Fahy, eks kepala polisi yang memimpin pencegahan terorisme saat Shamima kabur pada 2015 berkata, dia maklum jika London tak tertarik memulangkan gadis itu.

Baca: Warga NTT Kaget Campur Takut! Ayam Baru Disembelih, di Hatinya Muncul Tulisan 2020 dan 10D2E01

Baca: Sama-sama Kesepian Akibat Tsunami, Juliana Moechtar-Ifan Seventeen Dijodokan, Juliana Merasakan Ini

Baca: Iriana Istri Jokowi Menangis Mendengar Cerita Ibu Ini, Mobil Presiden Dihadang Pendemo yang Lapar

Fahy merujuk kepada pernyataan Shamima ketika diwawancarai jurnalis The Times Anthony Loyd bahwa dia tidak menyesal bergabung dengan ISIS.

"Saya bukan lagi gadis konyol 15 tahun yang kabur empat tahun silam. Saya tidak menyesal datang kemari (ISIS)," ungkap Shamima.

Reaksi tersebut mendapat tanggapan dari Menteri Keamanan Ben Wallace yang menyatakan pemerintah tidak akan mengambil risiko untuk berusaha memulangkan Shamima.

"Jika saja Shamima menyatakan penyesalan bergabung dengan ISIS, mungkin situasinya bakal berbeda," ujar Fahy kepada Radio BBC 4's Today.

Sebab untuk memulangkan Shamima, dibutuhkan biaya yang cukup besar serta memberi tantangan bagi polisi yang bertugas mengawalnya.

Para polisi lokal tentu tidak ingin proses pemulangan Shamima bakal menjadi magnet bagi anggota ISIS maupun kelompok ekstremis lainnya.

Sementara di Bethnal Green, kota tempat Shamima tinggal, terdapat reaksi yang menyatakan remaja 19 tahun itu seharusnya diperbolehkan pulang.

Hai Guys! Berita ini ada juga di KOMPAS.com

Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved