Kenapa Saat Sakit Kita Disarankan Tidur, Peneliti di Jerman Temukan Jawabannya

Tidur tampaknya memperkuat potensi sel-sel kekebalan tertentu dengan meningkatkan peluang sel itu untuk menempel dan akhirnya menghancurkan sel-sel

Kenapa Saat Sakit Kita Disarankan Tidur, Peneliti di Jerman Temukan Jawabannya
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Saat sakit, tak jarang orangtua dan dokter menyarankan untuk tidur.

Itu bukanlah pesan tanpa makna, tapi memang tidur adalah obat terbaik untuk sembuh dari sakit.

Seperti dilansir Reuters, para peneliti Jerman telah menemukan bagaimana tidur bisa meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan sakit flu.

Tidur tampaknya memperkuat potensi sel-sel kekebalan tertentu dengan meningkatkan peluang sel itu untuk menempel dan akhirnya menghancurkan sel-sel yang terinfeksi virus.

Para peneliti memusatkan perhatian mereka pada sel T, yang melawan infeksi.

Ketika sel T menemukan sel yang terinfeksi virus, mereka mengaktifkan protein lengket yang dikenal sebagai integrin yang memungkinkan mereka untuk melekat pada sel itu.

Para peneliti mampu membuktikan bahwa kurang tidur, serta periode stres berkepanjangan menyebabkan peningkatan hormon menjadi lebih tinggi yang menghambat ‘saklar utama’ untuk mengaktifkan integrin.
"Jika Anda ingin sistem kekebalan tubuh Anda mampu untuk melawan para penyerang, dapatkan waktu tidur yang cukup dan hindari stres kronis," kata pemimpin studi, Stoyan Dimitrov, seorang peneliti di Universitas Tubingen, Jerman.

Baca: Bakal Menikah dengan Reino Barack, Ini Panggilan Konyol & Kocak Syahrini Semasa SMA, Rini Dangdut

Baca: Ahok Mau Nikahi Puput Nastiti, Muncul Foto Heboh BTP Puput & Mantan Istri Vero, Ajudan Perebut Hati!

Baca: Penelitian Membuktikan Makanan Pedas Mengurangi Risiko Kematian, Tapi Ingat Jangan Makan Berlebihan

Baca: Jawaban Verrell Bramasta Kala Ditanya Perseteruan Putra Maia Estianty, Al Ghazali dan Alyssa Daguise

Baca: #UninstallBukalapak Terus Berlanjut, Presiden Jokowi Khawatir Ganggu Bisnis E-commerce

Dimitrov dan rekannya menduga bahwa hormon tertentu seperti epinefrin, norepinefrin, adenosin dan prostaglandin kemungkinan menghambat aktivasi integrin dengan mematikan saklar utama.

Untuk menguji hipotesis itu, mereka mempelajari sel-sel dari orang yang terinfeksi cytomegalovirus (CMV).

Sel T seharusnya mencari dan menghancurkan sel yang terinfeksi CMV, tetapi ketika sel T pasien dicampur dengan hormon yang dicurigai dalam tabung reaksi, kemampuan sel T untuk mengaktifkan integrin menurun.

Halaman
123
Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved