Tajuk

Krisis Air di Kota Seribu Sungai

SELAMA tiga hari, dari Jumat (15/2) hingga Minggu (17/2), sebagian warga Kota Banjarmasin tidak bisa menikmati air leding di rumahnya masing-masing.

Krisis Air di Kota Seribu Sungai
banjarmasinpost.co.id/jumadi
Warga Banjarmasin antre air bersih di kantor PDAM di Jalan Pramuka Banjarmasin, Minggu (17/2/2019). 

BANJARMASINOST.CO.ID - SELAMA tiga hari, dari Jumat (15/2) hingga Minggu (17/2), sebagian warga Kota Banjarmasin tidak bisa menikmati air leding di rumahnya masing-masing. Jangankan untuk mandi dan mencuci pakaian, air untuk memasak atau sekadar berwudhu pun sulit. Bagi warga yang kebetulan rumahnya dekat sungai, sedikit lebih beruntung. Sebab, mereka bisa beralih memanfaatkan air sungai untuk MCK. Atau, bagi yang memiliki dana lebih, bisa memilih menginap di hotel agar tetap bisa mandi dan wangi.

Terhentinya suplai air bersih dari PDAM itu, sebagai dampak kebocoran pipa induk diameter 1.200 mm yang berada di Desa Transmigrasi Angkatan Laut (Transal), Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Sungaitabuk, Kabupaten Banjar, Jumat (15/2) petang.

Hal itu berdampak pada kelancaran suplai air leding ke pelanggan PDAM Bandarmasih di Kecamatan Banjarmasin Timur dan Banjarmasin Selatan. Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Banjarmasin Barat dan Banjarmasin Utara hanya sebagian yang terdampak, khususnya di daerah Jalan Sungai Andai dan Jalan Hasan Basri dekat Rumah Sakit Ansyari Saleh yang mati total.

PDAM Bandarmasih pun memberikan solusi sementara dengan menyediakan air bersih gratis dalam tandon besar seperti di Jalan Pramuka, Banjarmasin Timur. Tapi tentu saja, hal itu bukan solusi terbaik. Warga tetap berharap agar air leding segera mengalir normal ke rumah mereka.

Perbaikan yang dilakukan pihak PDAM Bandarmasih masih belum membuahkan hasil. Meskipun dijanjikan perbaikan selesai dan air bisa mengalir pada Minggu (17/2) dini hari, tapi kenyataannya tidaklah demikian.

Sebagai kota berjuluk kota seribu sungai, krisis air bersih tentu menjadi ironi. Sebenarnya, sebelum kejadian ini, layanan PDAM Bandarmasih pun sebenarnya masih kerap dikeluhkan, khususnya saat pergantian musim. Sejumlah keluhan misalnya kualitas dan pasokan air yang kurang maksimal. Air yang mengalir bahkan kerap berwarna keruh seperti air teh. Atau, air tidak mengalir deras, sehingga warga terpaksa begadang demi memenuhi bak penampungan mereka.

PDAM Bandarmasih sebenarnya punya prestasi tidak sedikit. Akhir tahun lalu, misalnya, perusahaan ini meraihTop IT dan Telco 2018 untuk 2 katagori, yaitu TOP Leader on IT Leadership 2018 dan TOP IT on Intergrated Operation and Customer Service System 2018.

Namun sebagai perusahaan layanan publik, seharusnya tidak hanya prestasi yang gemilang, tapi peningkatan layanan kepada pelanggan benar-benar diperhatikan dan ditingkatkan.

Indikatornya tentu saja, saat pelanggan merasa puas dengan layanan dan kinerja perusahaan dalam menyuplai air bersih. Terlebih, sumber air baku di Banjarmasin seharusnya bukan persoalan. Karena keberadaan sungai yang banyak dan kesadaran menjaga kebersihan sungai pun terus meningkat dan digelorakan pemerintah daerah di kalangan masyarakat. Selanjutnya lebih memperhatikan jaringan perpipaan PDAM yang sebagian mungkin sudah uzur dan saatnya diganti. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved