Jendela

Manfaat Debat

Debat adalah praktik berdemokrasi. Debat berarti memberikan kesempatan bagi pendapat yang berbeda, bahkan berlawanan, untuk diungkapkan dan ditanggapi

Manfaat Debat
Capture/Banjarmasin Post
Jendela Mujiburrahman Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari Banarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SAAT kolom ini ditulis, debat calon presiden tadi malam belum berlangsung. Namun, menurut jajak pendapat yang dilaporkan sehari sebelumnya oleh Kompas (16-02-2019), 65 persen dari 620 responden di 17 kota besar di Indonesia mengaku akan menonton debat tersebut. Karena itu, saya menduga, debat tersebut akan membuat jagat politik Indonesia makin ramai.

Tema debat kali ini memang penting, yaitu energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup dan infrastruktur. Ketersediaan dan harga bahan bakar minyak (BBM), gas, pangan (termasuk kesejahteraan petani), penggunaan sekaligus pelestarian sumberdaya alam hingga infrastruktur seperti jalan, jembatan dan bangunan publik lainnya, semua ini penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

Memang, banyak responden Kompas di atas menyatakan bahwa debat kali ini tidak akan mengubah pilihan mereka (58 persen untuk pemilih Jokowi-Ma’ruf dan 48 persen untuk pemilih Prabowo-Sandi). Namun, ternyata 42,2 persen responden yang belum menentukan pilihan mengatakan, debat tersebut akan mempengaruhi keputusan mereka. Jumlah ini tentu sangat signifikan untuk diperebutkan.

Di sisi lain, debat pertama pada 17-1-2019 silam dinilai sebagian orang sebagai debat tanpa perdebatan. Yang terjadi bukan dialog, melainkan monolog, bukan adu argumen melainkan berbicara sendiri-sendiri. Ada juga yang menilai, pembicaraan yang diangkat oleh masing-masing calon kurang mengena pada pokok masalah (substansi). Bahkan ada kesan, semangat yang muncul sekadar menyerang lawan belaka.

Bagi mereka yang pernah menonton debat calon presiden di Amerika atau Eropa, memang debat di negeri kita masih belum selincah di sana. Namun, sebagai sebuah negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan ‘baru’ menjalani demokrasi politik sejak 1998 (20 tahun lebih), adanya debat ini sudah luar biasa. Kita masih berproses atau kita memang punya cara dan gaya sendiri dalam berdebat.

Jika kita menengok ke belakang, pada masa Orde Baru, debat calon presiden seperti saat ini adalah kemustahilan karena ketika itu pemilu sama sekali tidak mengajukan calon presiden alternatif selain Soeharto. Begitu pula, tidak pernah ada debat calon gubernur, bupati atau walikota. Semua pejabat tinggi tersebut ditentukan di tingkat elit belaka, dan rakyat, suka atau tidak suka, harus menerima.

Setelah Soeharto jatuh, sebagai bangsa dengan keragaman yang luar biasa, kita memilih demokrasi sebagai sistem politik kita. Karena itu, segala masalah di jalan demokrasi ini harus kita lewati. Kita tidak bisa menunggu keadaan ‘sudah siap’ baru kemudian berdemokrasi, karena demokrasi hanya akan tumbuh dan membudaya saat kita melaksanakannya sambil terus memperbaiki kekurangannya.

Mungkin pandangan optimistis itulah yang membuat kita menyebut pemilu sebagai ‘pesta demokrasi’. Dalam bahasa Inggris, pesta disebut party, dan kata ini juga berarti partai. Dalam arti partai, kata party lebih tepat dilihat dari asal katanya, part, artinya bagian atau pihak. Partai menunjukkan perbedaan. Namun, perbedaan itu, bagi bangsa kita, justru dijadikan pesta, suatu kegembiraan dalam perbedaan.

Debat merupakan wujud nyata dari pesta demokrasi itu. Debat adalah praktik berdemokrasi. Debat berarti memberikan kesempatan bagi pendapat yang berbeda, bahkan berlawanan, untuk diungkapkan dan ditanggapi. Debat mendorong orang untuk tidak asal bicara tanpa argument dan data. Debat juga menuntut kelapangan hati dan pikiran untuk mendengarkan suara yang berbeda.

Alhasil, seperti halnya pesta, debat tadi malam mungkin mengecewakan, mungkin pula membanggakan. Mungkin ada yang merasa bosan, mungkin pula ada yang menjadikannya sebagai bahan canda belaka hingga viral di media sosial. Semua sah-sah saja, asal kita tetap saling menghormati dan menghargai sesuai dengan asas demokrasi. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved