Geliat Pelayaran Rakyat di Banjarmasin

Miliaran Rupiah Beredar di Pelabuhan Martapura Baru, Inilah Alasannya

Di Banjarmasin, aktivitas pelra saat ini lebih banyak terpusat di Terminal Pelabuhan Martapura Baru

Miliaran Rupiah Beredar di Pelabuhan Martapura Baru, Inilah Alasannya
banjarmasinpost.co.id
Aktivitas bongkat muat di Pelabuhan Martapura Baru, Senin (17/02/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bau keringat tercium samar saat Norman, buruh angkut di Pelabuhan Martapura Baru, melintas sambil memanggul kardus besar berlapis karung plastik, Senin awal pekan lalu. Meski bertubuh kerempeng, lelaki parobaya itu tidak kalah cekatan dari puluhan buruh lain yang sehari-hari mengais rezeki di pelabuhan yang terletak di Jalan Barito Ilir, Banjarmasin Barat.

Saat itu, bolak balik, dia sibuk mengangkut barang dari KLM Adila ke atas dermaga. Kapal pinisi tersebut adalah satu dari tiga kapal yang sedang melakukan bongkar muat barang.

Hari itu cuaca cukup cerah. Jam masih menunjukkan pukul 10.00 Wita, namun sinar matahari memang sudah terasa menyengat. Kaus lusuh lengan panjang serta penutup kepala dari lilitan kaus tak mampu menahan keringat yang mengucur, atau mencegah kulit menghitam terbakar sinar sang surya.

Setiap hari, saat ada kapal yang melakukan bongkar muat, Norman bekerja mengangkut barang dari lambung kapal ke dermaga. Barang yang diangkut bermacam-macam, seperti bihun, kapas, furnitur dan lain-lain. Barang-barang tersebut selanjutnya dinaikkan ke truk untuk dikirim ke gudang pemilik barang atau pasar. Proses bongkar muat lumayan lama. “Tergantung banyaknya muatan kapal, bisa 3 sampai 4 hari atau lebih,” ujarnya.

Untuk pekerjaan itu, kata Norman, buruh biasanya berkelompok yang jumlahnya sesuai dengan order dari mandor yang ditugaskan pemilik barang. Upah yang diterima pun borongan, namun jika dihitung per orang per hari cukup lumayan, berkisar Rp 100.000.

Bertahun-tahun bekerja sebagai buruh angkut pelabuhan, Norman mengaku cukup kerasan. Sebab masih cukup banyak kapal yang datang, meskipun tidak seramai dulu.

Pelayaran Rakyat atau Pelra hingga kini memang masih tetap eksis dengan mengandalkan kapal pinisi. Di Banjarmasin, aktivitas Pelra saat ini lebih banyak terpusat di Terminal Pelabuhan Martapura Baru, yang dikelola PT Pelindo III Banjarmasin.

Setiap hari sekitar empat sampai delapan armada melakukan aktivitas di pelabuhan tersebut. Armada ini mayoritas datang dari Surabaya, Gresik, dan Makassar. Rata-rata barang yang diangkut yakni pupuk dan barang campuran atau kelontongan. Selesai bongkar muat, biasanya kapal akan kembali berlayar dengan mengangkut semen ke Kumai, Kalteng. Ada pula yang mengangkut kayu ke Surabaya.

Daya angkut kapal bervariasi. Paling besar biasanya bisa mengangkut pupuk dan semen di luar barang campuran sebanyak 1.200 ton dan paling kecil antara 200 ton sampai 300 ton.

Pelra di Banjarmasin memang tetap eksis. Namun jika dibanding era 1980 sampai 1990-an jauh menurun. Menurut Syaiful, salah satu agen kapal, kala itu armada Pelra yang melakukan bongkar muat, bisa sampai belasan unit per hari.
Jumlah perusahaan Pelra pun menurun drastis. Pada era itu, terdapat sekitar 20 perusahaan Pelra di Banjarmasin, baik berstatus pusat maupun cabang. Kini tersisa hanya lima perusahaan yang aktif.

Halaman
12
Editor: Anjar Wulandari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved