Tajuk

Adu Unggul Capres

Lihat saja, usai Jokowi dan Prabowo bersalaman, justru para pendukungnya yang berperang, saling menjatuhkan dan menyerang hingga ke masalah personal

Adu Unggul Capres
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Calon Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto bersalaman dengan didampingi calon Wakil Presiden masing-masing, Jusuf Kala serta Hatta Rajasa, usai melakukan debat Capres di Hotel Gran Melia, Jakarta, Minggu (15/6/2014). Debat Capres yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum tersebut merupakan rangkaian menuju proses Pilpres yang akan digelar 9 Juli mendatang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Debat kedua pilpres yang digelar Minggu (17/2) malam, dengan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, membetot perhatian masyarakat. Mereka ingin mengetahui calon presidennya beradu argumen, program, dan gagasan.

Diikuti petahana Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, rasanya tak perlu terlalu panjang dibuat analisis atas hasil dan penampilan keduanya. Berbagai analisis dari pengamat ahli, upaya cek data dari media dan lembaga survei, dan pengamat dadakan, rasanya sudah bisa menggambarkan bagaimana hebohnya dan hasil dari perdebatan capres tersebut.

Selain itu, debat capres secara elektoral tidak berpengaruh. Bagi pengagum Jokowi tentu akan berkata sang petahana menang telak dengan data-data yang dimiliki, sementara bagi pendukung Prabowo Subianto debat kemarin menunjukan kepasitas dan nasionalisme seorang mantan Danjen Kopassus.
Jadi, tidak ada yang benar-benar unggul di mata masing-masing pendukung.

Tentu secara ideal, debat diharap bisa menjadi guidance bagi calon pemilih. Mereka bisa menentukan kapasitas calon pemimpin, dan siapa yang akan menjadi panutan dan pengayom mereka selama lima tahun ke depan.

Namun di luar dari perdebatan kedua capres dan kedua belah pihak pendukung yang terus meramaikan dan memanaskan dunia maya, sebenarnya debat kedua ini belum menyentuh beberapa permasalahan elementer seperti kerusakan lingkungan dan pengelolaan pascatambang, – dalam konteks Kalimantan Selatan.

Tidak ada capres yang memberi jawaban yang mendetail ataupun secara teknis bakal mengurai persoalan yang telah bertahun-tahun berlangsung ini. Tak satupun menawakan solusi konkret, kecuali penegakan hukum, yang ini sama-sama disampaikan keduanya. Terlalu retoris kata penegakan hukum disampaikan dalam tataran debat yang sebenarnya bisa menggali visi yang lebih dalam.

Catatan berikutnya bagi masyarakat, tak elok rasanya hasil debat kemarin malam menjadi bahan olok-olok atau sumber hoaks dan fitnah. Silakan mendukung calonnya masing-masing dengan tetap mengedepankan hati yang jernih.

Lihat saja, usai Jokowi dan Prabowo bersalaman, justru para pendukungnya yang berperang, saling menjatuhkan dan menyerang hingga ke masalah personal. Pendidikan politik yang berusaha dibangun dalam konteks persaingan program, berubah menjadi ajang saling caci maki berdalih analis ulung.

Dan terakhir, menjelang debat berikutnya antara calon wakil presiden Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno, satu persoalan lain bagi panitia dan juga pihak keamanan, yaitu masalah keamanan. Ledakan petasan yang disebut sebagai ulah pelaku iseng, rasanya tak perlu terjadi dan pelakunya harus segera bisa ditemukan.

Walau tak ada korban jiwa, terlalu mahal hajat lima tahunan bangsa ini diganggu oleh ulah iseng tersebut. Dengan jadwal debat yang digelar 17 Maret mendatang dengan tema pendidikan kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya, semoga tak ada lagi ulah jahil, atau apapun itu disebut.

Pendukung kedua calon diharap juga bisa lebih dewasa, dan tidak menjual kebencian. Karena siapa pun yang mereka caci maki, suatu saat bisa terpilih menjadi pemimpin negeri ini. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved