Opini Publik

Mendekonstruksi Sikap Anormatif Murid

Sikap anormatif murid terhadap guru, seperti berani melawan guru, menjadi warning akan cenderung merosotnya sikap respect (hormat) murid kepada guru.

Mendekonstruksi Sikap Anormatif Murid
(KOMPAS.com/HAMZAH ARFAH)
Nur Khalim (kiri) dan AA, siswa yang merokok di dalam kelas dan menantangnya hingga videonya viral di media sosial sepakat berdamai dalam mediasi di kantor Polsek Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Minggu (10/2/2019). 

Oleh: MUH. FAJARUDDINATSNAN MPD
Dosen STKIP PGRI Banjarmasin

Meskipun kasus murid tantang guru di Gresik, Jawa Timur, yang sempat viral, berakhir damai karena legowo-nya sang guru untuk memaafkan muridnya, namun, peristiwa tersebut sejatinya menunjukkan dua hal.

Pertama, sikap anormatif murid terhadap guru, seperti berani melawan guru, yang makin menjadi, sekaligus menjadi warning akan cenderung merosotnya sikap respect (hormat) murid kepada guru.

Kedua, sikap yang diperlihatkan oleh sang guru Nur Khalim menunjukkan kemuliaan dalam bentuk kesabaran tiada batas seorang guru dalam merespons berbagai macam bentuk perangai murid. NurKhalim, menyampaikan pesan moral kepada seluruh guru (baca: pendidik) di tanah air, tidak serta merta merespons sikap berani murid terhadap guru dengan cara yang lebih kasar.

Justru, dengan pendekatan dari hati kepada murid, bisa jadi solusi untuk menyadarkan anak, bahwa sikap melawan guru adalah sikap tercela dan salah. Sikap yang diteladankan oleh NurKhalim, sejatinya menunjukkan sikap legowo seorang guru, yang bukan berarti kalah, tetapi mengalah guna menyadarkan anak didiknya melalui pendekatan yang berbeda (baca: hati).

Penulis setuju dengan opini Moh Yamin, yang berjudul “Disorientasi Pendidikan Kita” (BPost, 13/2/2019), untuk menggambarkan preseden buruk dan ironi berulang akan kasus siswa tantang guru. Namun, bermula dari kasus tersebut, seyogyanya seluruh pihak bertanggung jawab untuk kembali mendekonstruksi perilaku anak (baca: murid), utamany asikap patuh, hormat, sopan santun terhadap guru.

Dekonstruksi Sikap
Banyak faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku anormatif murid jaman milenial yang makin menjadi. Utamanya, makin lunturnya sikap patuh, hormat, dan sopan santun terhadap guru yang sudah tulus ikhlas mendidik. Sebenarnya tidak ada dalam kamus, murid nakal atau murid bandel, yang ada adalah murid yang berulah karena kurangnya perhatian, utamanya dari orang tua, ketika simurid berada di rumah.
Murid yang berulah di kelas, sejatinya ia sedang berusaha menarik perhatian dari sang guru.

Hanyasajasalahdalammengaktualisasikan, sehinggabisamembuat guru marah. Padahal, marahnya seorang guru seperti “belaian” kasih sayang, yang mungkin tidak didapat sang anak ketika di rumah. Namun, bedanya anak jaman dulu dan sekarang nampak nyata dalam menafsirkan “marah” nya sang guru.

Kalau anak jaman dahulu, ketika disentil oleh guru, mereka (baca: murid) lantas terpacu untuk berbuat lebih baik, dan ingin menunjukkan kesuksesan terhadap guru yang menyentilnya. Sedangkan anak jaman sekarang, cenderung permisif dalam mengartikan teguran sang guru, dengan perilaku-perilaku anormatif seperti menantang balik sang guru, melaporkan ke orangtua, hingga menganiaya guru.

Collins (1992:18-19) menyebutkan ada tiga langkah yang bisa diterapkan baik oleh guru, orang tua, dan masyarakat untuk mendekonstruksi sikap anormatif anak.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved