Opini Publik

Caronong Samudra; Obor Sejarah dan Akar Budaya

Pementasan bernilai sejarah diantaranya Perang Banjar Kolosal tanggal 17 Agustus 2015 bertempat di kantor Gubernur disajikan dengan tambahan bom asap

Caronong Samudra; Obor Sejarah dan Akar Budaya
banjarmasinpost.co.id/salmah
Opera Caronong Samudra 

Oleh: Mochtar Bungkus, Anggota Komunitas Aura Borneo

Penulis mencoba mengkaji keunikan pementasan opera tersebut diantaranya, pertama yaitu kata: “Caronong”, sebenarnya apakah arti dari kata itu. Apalagi kata tersebut sangat jarang terdengar dalam bahasa Banjar di keseharian. Inilah poin yang menumbuhkan rasa penasaran atau “curiosity”.

Arti kata dalam bahasa Indonesia adalah kemilau, sekilas pemilihan kata tersebut merupakan simbolik dari pementasan opera kolosal. Hal ini ditunjukkan pula saat “opening” dengan dipakainya 18 buah caronong.

Dalam sendratari Ramayana Full Story tahun 2017, ketika adik Rahwana bernama Kumbakarna akan berangkat maju perang terdapat momen yang berbau mistis namun juga bernilai estetis.

Yaitu ketika suara musik berirama sedih seperti pengantar kematian atau akhir kehidupan (jika lagu jawa disebut Tlutur) dan ditambah bau bakaran kayu khas Kalimantan untuk menghindari gangguan dari alam yang beda.

Sedangkan pada saat Manjalung Zaleha, terdapat momen etos kepahlawanan pada saat Ratu Zaleha yang diperankan oleh Tri Nurahmi sedang menggorok tentara Belanda dengan kelewang serta meneriakkan kalimat; “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”.

Sebait kata etos kepahlawanan yang diucapkan oleh Ratu Zalekha tersebut dikenang hingga kini dan bahkan terpajang dalam tulisan berukuran sangat besar di kantor Komando Daerah Militer Tanjungpura di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Drama Kolosal di Banjarmasin
Pementasan bernilai sejarah diantaranya Perang Banjar Kolosal tanggal 17 Agustus 2015 bertempat di kantor Gubernur disajikan dengan tambahan bom asap warna merah, hijau dan biru. Heny Apriana Nisa seorang mahasiswa Sendratasik Universitas Lambung Mangkurat memerankan sebagai ibu dari seorang anak dan sekaligus narator bercerita tentang kepahlawanan Hasan Basri.

Adegan demi adegan berlangsung dengan momentum yang pas dan visualisasinya terjalin dengan rapi. Sebagai contohnya, panggung yang dijadikan sebagai “stage” diolah menjadi sebuah tontonan yang menyentak dimana digambarkan masyarakat kelas bawah diperintahkan kerja paksa untuk membawa “stage” dalam areal perang kolosal tersebut. Mengejutkan.

Bagaimana dengan tontonan lainnya? Secara kebetulan penulis sempat menikmati tontonan diantaranya Pangeran Antasari di lapangan Lambung Mangkurat, cerita kepahlawanan Panglima Batur di depan Kantor Balaikota Banjarmasin. Demikian pula dengan penampilan secara outdoor sendratari Pangeran Samudra untuk memeriahkan Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke 492 di depan Kantor Balaikota Banjarmasin.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved