Tajuk

Manajemen Stok

DI saat ada warga merasa kecewa karena ketika memerlukan bantuan darah ke Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Banjarmasin

Manajemen Stok
net
donor darah 

DI saat ada warga merasa kecewa karena ketika memerlukan bantuan darah ke Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Banjarmasin, muncul pernyataan kalau tempat tersebut terpaksa harus membuang ratusan kantong trombosit akibat kelebihan stok.

Bukan tanpa sebab UTD PMI Banjarmasin harus membuang stok trombosit mereka. Seperti diberitakan Banjarmasin Post edisi Selasa (19/2), hal itu karena golongan darah yang sudah terlanjur mereka olah ternyata tidak dicari oleh warga. Terpaksa harus dibuang.

Ketidaksesuaian antara ketersediaan dan keperluan warga terhadap stok trombosit ini lah yang membuat sebagian, dilaporkan mencapai 50 persen, stok trombosit golongan darah yang tersisa harus dibuang akibat sudah kedaluwarsa.

Manajemen stok. Mungkin ini lah yang harus dibenahi oleh UTD PMI Banjarmasin. Pasalnya, mereka menyatakan menyediakan 40 kantong semua golongan darah untuk diolah trombositnya, namun ternyata tidak semua diperlukan oleh warga.

Akibatnya, stok sisa harus disimpan dan hanya bertahan selama tiga hari, sebelum dimusnahkan karena sudah kedaluwarsa. Di sisi lain, warga yang memerlukan gagal mendapatkan stok darah, akibat ketersediaan golongan darah yang disediakan terbatas.

Memperhatikan hal ini, perlu ditinjau apakah masalah tersebut sudah lama atau baru saja terjadi. Harapannya, UTD PMI Banjarmasin segera menemukan cara agar stok trombosit yang mereka olah bisa memenuhi permintaan warga, sekaligus meminimalisasi kelebihan stok yang kedaluwarsa.

Keberadaan manajemen stok ini disini sangat penting. Pasalnya, kebutuhan akan darah, khususnya trombosit saat ada satu penyakit mewabah, seperti deman berdarah, perat UTD PMI seperti di Banjarmasin sangat penting.

Beruntung, mencari pendonor darah saat ini tidak lagi sesulit beberapa tahun silam. Saat ini, mendonorkan darah sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian besar warga Banjarmasin. Selain mendonorkan darah juga membuat tubuh menjadi lebih sehat karena terjadi peremajaan darah di dalam tubuh.

Wajar, perubahan gaya hidup tersebut membuat UTD PM Banjarmasin menjadi kewalahan menerima pasokan darah segar dan memutuskan untuk tidak dulu menerima donor darah secara rutin.

Namun proses pengolahan darah ‘mentah’ agar bisa digunakan pasien yang memerlukan, tidak bisa dilakukan secara cepat. Darah yang diterima dari pendonor masih perlu proses yang memakan waktu beberapa lama.

Kondisi ini lah yang mungkin menyebabkan UTD PMI Banjarmasin mengambilkan kebijakan menyediakan stok trambosit sebanyak 40 kantong dari empat golongan darah, karena keperluannya bisa tak terduga-duga.

Tapi fakta di lapangan, tidak semua trombosit golongan diperlukan. Atau malah ada trombosit golongan darah tertentu yang saat tertentu paling banyak diperlukan, tapi petugas di UTD PMI tak bisa serta-merta menyediakan karena perlu waktu memprosesnya.

Semoga beberapa waktu ke depan ditemukan manajemen stok terbaik di UTD PMI Banjarmasin, baik oleh petugas di sana atau ada pihak yang membantu melakukannya. Agar darah yang telah disumbangkan dan diolah, tidak terbuang percuma. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved