Opini Publik

Pasca-HPS Membangunkan Raksasa Tidur

Realita kondisi lahan pertanian di lokasi HPS (Hari Pangan Sedunia) sekarang sudah kembali seperti sebelum adanya HPS tidak bisa dipungkiri.

Pasca-HPS Membangunkan Raksasa Tidur
BPOSTROUP/EDI NUGROHO
RATUSAN mahasiwa Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjary menanam padi di lokasi Hari Pangan Sedunia (HPS) Nasional tahun 2018 di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), Sabtu (28/7/1/8) siang. 

Oleh: PROF DR ISMED SETYA BUDI MS IPM, Dosen Faperta ULM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Realita kondisi lahan pertanian di lokasi HPS (Hari Pangan Sedunia) sekarang sudah kembali seperti sebelum adanya HPS tidak bisa dipungkiri. Kondisi ini sungguh menyedihkan karena segala jerih payah yang sudah dicurahkan belum terbayar dengan melihat hasil produksi pertanian yang membanggakan sesuai harapan.

Baliho besar masih tersisa di beberapa jalan raya, hasil dari kegiatan sosialisasi dalam rangka HPS. Masih jelas terpampang kalimat “Membangunkan Raksasa Tidur”, yang bermakna bahwa petinggi banua Kalimantan Selatan punya kepedulian dan keinginan menggali potensi besar lahan basah yang belum dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi pertanian masa depan.

Namun sekali lagi sungguh sangat disayangkan kembali terbengkalai pasca-HPS, ditunjukkan dengan mulainya tumbuh semak, masalah genangan air dan minimnya kesiapan masyarakat setempat menerima kenyataan apa yang perlu diperbuat pasca-HPS. Apalagi infrastruktur pendukung yang belum juga terealisasi sesuai dengan janji.

Pemilihan Kalimantan Selatan sebagai lokasi FAO memperingati hari pangan sedunia tahun lalu tidak terlepas karena provinsi ini memiliki lahan basah marjinal terluas yang belum disentuh untuk diberdayakan secara optimal.

Kenapa lahan basah marjinal ini baru sekarang tersentuh atau bahkan masih tersia-siakan karena masih banyak lahan produktif yang tersedia dan belum tergarap akibat semakin berkurangnya tenaga kerja di bidang pertanian dari waktu ke waktu, dan juga akibat kepemilikan lahan produktif sudah berpindah tangan ke pemilik bukan petani, ditambah minimnya kepedulian pemerintah membantu petani yang miskin modal untuk bertani.

Langkah cepat dan tepat pemerintah daerah akan membangunkan raksasa tidur lahan basah pasang surut menjadi solusi kerawanan pangan dunia masa depan, tidak mustahil apalagi bila dilihat Kalsel pernah menyandang lumbung pangan propinsi sekitar walau hanya dengan bekal teknologi tradisional spesifik lokasi dengan bibit varietas lokal yang sudah adaptif.

Sekarang dengan dukungan teknologi maju di bidang pertanian dalam hal pengolahan tanah dan penanaman hingga panen tentu sangat membantu pada kondisi keterbatasan jumlah tenaga kerja petani.

Namun, harapan besar agar Kalsel kembali menjadi lumbung pangan tentu juga perlu langkah tepat. Apalagi realita tidak sedikit lahan potensial pertanian sekarang sudah berubah menjadi perumahan.

Dimana-mana lahan pertanian dengan lokasi strategis di perkotaan berubah total karena yang tumbuh pesat adalah perumahan. Kondisi ini tidak mustahil terus bertambah parah apabila undang-undang tentang lahan abadi belum juga ada. Disinilah pula yang menjadi kunci utama penyebab hilangnya kejayaan Kalsel sebagai lumbung pangan Indonesia.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved