Ekonomi dan Bisnis

Didominasi Pertambangan, Bank Indonesia Tawarkan Solusi ini

Perekonomian Kalimantan Selatan (Kalsel) masih bergantung pada sektor berbasis komoditas, terutama batubara, CPO, karet dan kayulapis.

Didominasi Pertambangan, Bank Indonesia Tawarkan Solusi ini
banjarmasinpost.co.id/mariana
Pemaparan tersebut digelar dalam pertemuan bersama insan pers, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel, di Banjarmasin, Selasa (26/2/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Perekonomian Kalimantan Selatan (Kalsel) masih bergantung pada sektor berbasis komoditas, terutama batubara, CPO, karet dan kayulapis.

Sektor pertambangan memberikan sumbangan mencapai 23 persen pada perekonomian banua.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia Perwakilan Kalsel memaparkan solusi mengenai upaya mendorong sumber daya alam sebagai strategi meningkatkan daya saing perekonomian Kalsel.

Pemaparan tersebut digelar dalam pertemuan bersama insan pers, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalsel, di Banjarmasin, Selasa (26/2/2019).

Strategi peningkatan daya saing perekonomian tersebut dapat melalui peningkatan agrobisnis atau agroindustri, pengembangan investasi industri, perdagangan, dan jasa, pengembangan kawasan wisata unggul, pengembangan ekonomis syariah, dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup daerah.

Baca: Balasan Rosa Meldianti Pada Dewi Perssik Atas Syarat Laporan Dicabut, Istri Angga Wijaya Diminta Ini

Baca: Blak-blakan Hotman Paris Soal Kabar Verrell Bramasta dan Natasha Wilona Putus Karena Anaknya

Baca: Jenis Kelamin Anak Aura Kasih Terungkap, Istri Eryck Amaral Itu Sebut Kado Terindah di Ulang Tahun

Baca: Maia Estianty dan Irwan Mussry di Jepang, Hadiri Pernikahan Syahrini & Eks Luna Maya, Reino Barack?

Berdasarkan riset dan asesmen Bank Indonesia (Riset Growth Strategy, 2017), terdapat tiga industri potensial kompetitif di Kalsel yang dapat dikembangkan.

"Ada industri perikanan di antaranya pembekuan biota air seperti udang beku, agroindustri misalnya industri kimia organik seperti biodiesel, dan jasa pariwisata yang dapat dikembangkan," jelas Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalsel, Herawanto kepada Banjarmasinpost.co.id.

Sementara itu, diuraikannya, pada tahun 2018, inflasi Kalsel tercatat 2,63 persen, berada dalam target sasaran inflasi nasional 3,5±1 persen.
Inflasi tersebut lebih rendah dari 2017 lalu yang sebesar 3,73 persen serta sedikit lebih tinggi dari inflasi nasional 3,13 persen.

Rendahnya inflasi Kalsel pada tahun 2018 bersumber dari semakin rendahnya komponen harga dikarenakan tidak adanya momen kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) yang terjadi pada 2017.

"Perekonomian dunia berisiko tumbuh melambat pada 2019 dan 2020, dipengaruhi melambatnya perekonomian negara maju dan relatif stagnannya pertumbuhan ekonomi negara emerging. Mitra utama tujuan ekspor Kalsel, khususnya China dan India tumbuh relatif stagnan," pungkasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved