Membalas Pembunuhan Ayahnya, Putra Osama bin Laden Ancam Serangan ke AS, Negara Adidaya Panik

Pemerintah Amerika Serikat kini tengah memburu putra mendiang pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden.

Membalas Pembunuhan Ayahnya, Putra Osama bin Laden Ancam Serangan ke AS, Negara Adidaya Panik
Mirror
Hamza bin Laden 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat kini tengah memburu putra mendiang pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden.

Washington bahkan menawarkan hadiah sebesar 1 juta dollar AS atau sekitar Rp 14 miliar untuk informasi yang bisa mengarahkan pada lokasi keberadaan Hamza bin Laden, yang kerap disebut sebagai pewaris gerakan ekstremisme di masa depan.

Lokasi Hamza bin Laden yang kerap dijuluki dengan sebutan putra mahkota jihad itu telah menjadi bahan spekulasi selama bertahun-tahun.

Sejumlah laporan ada yang menyebut Hamza berada di Pakistan, namun ada juga yang mengklaim bahwa dia kini tinggal di Afghanistan.

Baca: VIDEO VIRAL Film Dilan 1991 Ditolak di Makassar, Demo Sekelompok Orang Bikin Ricuh Tayang Perdana

Baca: Pendaftaran Hari Ini, UGM Siapkan 1.720 Komputer untuk Tes UTBK SBMPTN 2019, Ini Jadwalnya

Baca: Dewi Perssik Bongkar Hubungan Suami Ashanty, Anang Hermansyah dengan Kakaknya Saat Jenguk Ayahnya

Baca: Baabul Munawwar, Masjid yang Tersembunyi 1.760 Meter di Perut Bumi Indonesia

Selain itu ada juga yang menyebut Suriah dan Iran sebagai tempat persembunyian Hamza.

"Hamza bin Laden adalah putra mendiang pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden dan telah muncul sebagai pewaris kepemimpinan dari jaringan itu," ujar pernyataan Departemen Luar Negeri AS, dikutip AFP, Jumat (1/3/2019).

Hamza, yang menurut AS kini berusia 30-an tahun, disebut telah mengancam untuk melancarkan serangan-serangan terhadap AS sebagai pembalasan atas pembunuhan ayahnya pada 2011, saat bersembunyi di kota Abbottabad, Pakistan, oleh pasukan khusus AS.

Badan-badan intelijen AS memandang Hamza bin Laden sebagai penerus ayahnya untuk menggerakkan jihad secara global, terlebih saat kelompok ISIS yang lebih ekstrem kini telah terdesak hingga batas terakhirnya di Suriah.

Pada 2015, Hamza sempat merilis pesan audio yang menyerukan para pendukungnya di Suriah agar bersatu dan mengklaim bahwa pertempuran di negara yang dilanda perang akan membuka jalan untuk "pembebasan Palestina".

Selain itu dalam sebuah pesan setahun kemudian, seperti yang dilakukan mendiang Osama, Hamza mendesak penggulingan kepemimpinan di negara Arab Saudi, asal mereka.

Halaman
12
Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved