Tajuk

Air Bersih dan Kebiasaan Lama

KEHIDUPAN masyarakat Kalimantan Selatan tidak terlepas dari peran aliran sungai. Sejak dahulu, masyarakat Banjar

Air Bersih dan Kebiasaan Lama
banjarmasin post group/ jumadi
Ratusan warga Sungai Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, memanfaatkan anak Sungai Martapura untuk mandi. Tampak warga sekitar dari anak-anak sampai orang dewasa mandi di sungai tersebut, Minggu (17/2/2019). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEHIDUPAN masyarakat Kalimantan Selatan tidak terlepas dari peran aliran sungai. Sejak dahulu, masyarakat Banjar memilih menetap dan bermukim di sepanjang aliran sungai. Bantaran sungai lebih dipilih ketimbang pegunungan.

Tak heran jika badan jalan yang mengubungkan antara desa yang satu dengan desa yang lainnya juga mengikuti aliran sungai. Contohnya seperti Jalan Martapura yang terbentang dari Kota Martapura, Kabupaten Banjar hingga ke Kota Banjarmasin.

Sejak dahulu pula, air sungai digunakan masyarakat untuk keperluan sehari-hari. Baik untuk konsumsi, mandi, mencuci dan kakus. Dan kebiasaan itu masih ‘terjaga’ hingga sekarang.

Kalau dahulu mungkin masih memungkinkan karena airnya yang jernih dan bersih. Kalau sekarang? Tentu sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat yang berada di sepanjang bantaran sungai.

Kebiasaan masyarakat buang air besar di sungai menjadikan air sungai rentan tercemar bakteri E coli yang berasal dari air besar yang dibuang dan larut di aliran sungai.

Ya. Bakteri Escherichia coli (atau biasa disingkat dengan E coli) adalah salah satu jenis bakteri yang biasanya hidup di usus manusia dan hewan. Kebanyakan jenis bakteri E coli tidak berbahaya dan bahkan membantu menjaga saluran pencernaan Anda tetap sehat. Meski begitu, ada beberapa jenis bakteri E. coli tertentu yang dapat menyebabkan kram perut parah, diare berdarah, hingga gagal ginjal.

Mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah berlangsung sejak dahulu memang tidak mudah. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kesabaran dari pemerintah, juga perlu waktu yang sangat panjang.

Pemberantasan jamban apung milik masyarakat yang dilakukan pemerintah daerah kerap menemui kendala. Meski sudah dbangunkan WC komunal di darat, sebagian masyarakat merasa jauh lebih nyaman menggunakan jamban apung di sungai.

Meski demikian, sangat diperlukan ketegasan dari pemerintah dalam hal menghilangkan kebiasaan tersebut. Tujuannya tidak lain guna menjaga aliran sungai di Banua tetap bersih dan nyaman dan terpenting agar masyarakat membiasakan hidup sehat.

Undang Udang Nomor 7 Tahun 2004 pada pasal 5 menyebutkan bahwa negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bersih bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih dan produktif.

Kebiasaan masyarakat bantaran sungai yang sudah berlangsung sejak lama tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah guna mengubahnya. Namun, pihak-pihak lain seperti PDAM dan instansi-instansi lainnya juga harus membantu agar masyarakat kita benar-benar mendapatkan air bersih dan bisa hidup sehat. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved