Opini Publik

Istilah Kafir dan Nonmuslim dalam NKRI

Penggunaan istilah kafir umumnya tertuju kepada mereka yang menolak dakwah dan menunjukkan sikap permusuhan terhadap umat Islam.

Istilah Kafir dan Nonmuslim dalam NKRI
Tribun Timur/Muhammad Abdiwan
Pengunjung menyaksikan kitab suci Alquran raksasa yang dipamerkan di Masjid Raya Makassar, Jumat (11/7). 

OLEH: AHMAD BARJIE B
Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari
(Komisi Informasi dan Komunikasi
MUI Kalsel)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) belum lama tadi melaksanakan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) 2019 yang berlangsung di Kota Banjar Jawa Barat.

Di antara masalah yang dibahas kali ini adalah sebutan “kafir” dalam NKRI. Apakah sebutan itu relevan untuk digunakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akhirnya forum menyepakati, pemeluk agama selain Islam lebih tepat disebut nonmuslim, dan kedudukan mereka dalam NKRI adalah sebagai muwathin (warga negara) yang sama dengan semua warga negara lainnya, tanpa dibedakan agama, suku, ras dan golongannya.

Seperti biasa rumusan seperti ini pasti mengundang sikap pro dan kontra, baik di dalam forum Munas maupun di tengah publik. Tidak terkecuali, media online pun banyak menyajikan pendapat para netizen. Tulisan ini tidak memihak pendapat yang pro dan kontra, tetapi sekadar melempar pendapat dan wacana, yang siapa tahu bermakna bagi kita semua.

Tidak Pukul Rata
Alquran dan hadits bervariasi ketika menggunakan suatu istilah untuk suatu kalangan. Misalnya orang Islam, ada kalanya disebut muslim, mukmin, mukhlis, muhsin dan muttaqin, walaupun hakikatnya semuanya muslim. Begitu juga orang yang tidak beragama Islam, Alquran menyebutnya dengan istilah yang tidak sama, satu saat disebut musyrik, kafir, Yahudi, Nashara, Sabiin, Majusi dan Ahl al-Kitab.

Berkenaan dengan istilah kafir, di dalam Alquran memang banyak ditemui. Tetapi jika kita teliti lebih jauh karakteristik Alquran, penggunaan istilah kafir umumnya tertuju kepada mereka yang menolak dakwah dan menunjukkan sikap permusuhan terhadap umat Islam.

Misalnya sebutan kafir pada surah al-Kafirun (QS 109: 1-5), tertuju kepada kaum kuffar Quraisy yang memusuhi Nabi dan bersikap kurang ajar kepada beliau saw. Sebagai reaksi atas kekurangajaran kaum kafir Quraisy Allah saw menurunkan surah al-Kafirun.

Contoh lain sebutan kafir pada QS al-Baqarah ayat 6-7, ayat ini ditujukan kepada kaum Yahudi di Madinah.

Mereka ini semula mengikat perjanjian dengan Nabi dalam Piagam Madinah, tetapi kemudian dalam Perang Ahzab berkhianat kepada Nabi dan kaum muslimin. Mereka bersekutu dengan kaum Quraisy Makkah dan musuh Islam lainnya di Jazirah Arabia untuk sama-sama menyerang dan mengeroyok Nabi. Akhirnya mereka dihancurkan lewat badai/topan, sementara sekutu mereka pulang ke daerah masing-masing. Dan Allah menurunkan ayat di atas dengan memvonis mereka kafir karena mereka tidak pernah mau menaati perjanjian dan menolak diberi peringatan.

Tetapi dalam suasana tenang, damai, Allah swt menyebut nonmuslim itu dengan bahasa dan istilah yang lebih lembut, soft languages, yaitu ahl al-kitab untuk kaum Nasrani. Ini tampak dari kedatangan kaum Nasrani Najran yang datang ke Madinah untuk berdialog dengan Nabi tentang Ketuhanan Yesus. Nabi menerima mereka dengan ramah, dan dialog pun dilakukan di Masjid Nabawi yang mulia (QS Ali Imran: 59-64). Allah SWT juga mengakui bahwa orang-orang nonmuslim yang tidak memusuhi Islam itu sebagai orang-orang saleh, yaitu mereka yang tidak menyombongkan diri dan suka berkawan dengan orang-orang Islam (QS al-Maidah: 82).

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved