Berita Banjarmasin

Kisah Penjual Tissue Viral di Banjarmasin, Mukti Bawa Anaknya yang Pernah Operasi

Kisah Penjual Tissue Viral di Banjarmasin, Mukti Bawa Anaknya yang Pernah Operasi

Kisah Penjual Tissue Viral di Banjarmasin, Mukti Bawa Anaknya yang Pernah Operasi
banjarmasin post group/ ahmad rizky abdul Ghani
Penjual tissue di Jalan Simpang Empat Gatot Soebroto Banjarmasin, Mukti saat memperlihatkan bekas operasi putranya, Rabu (6/3/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Langkah demi langkah yang dijalani Mukti Wibowo, sebagai penjaja tisu di Traffic Light Pengambangan Kecamatan Banjarmasin Timur Kalsel, memang tak kenal menyerah.

Bagaimana tidak, bersama seorang anak berusia 2,7 tahun yang masih terbalut perban di perutnya usai menjalani operasi, Mukti seolah tak lelah mencari nafkah demi keluarga dan pengobatan putranya.

Dari panas terik, diguyur hujan hingga mendapatkan peringatan tegas berupa penyitaan sepeda pancalnya oleh polisi pamong praja, pun sudah pernah dialami ayah empat anak itu.

Namun bukannya jera, hal itu justru menjadi pelecut Mukti demi menghidupi dan membiayai keluarga beserta putranya yang baru saja menjalani operasi tumor ginjal.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG! LIVE STREAMING PSIS vs Persipura, Siaran Langsung Indosiar Piala Presiden 2019

Baca: Hasil PSM Makassar vs Kalteng Putra di Piala Presiden 2019 : Skor Akhir 0-1, Gol Antoni Putro

Baca: Diblok Syahrini & Eks Luna Maya, Reino Barack Saat Posting Foto Nikah, Hotman Paris Sindir Incess?

Baca: Hasil All England 2019, Langkah Gregoria Mariska Tunjung Terhenti oleh Pemain Jepang Nozomi Okuhara

"Kalau ada Satpol PP, paling saya bersembunyi di sini dulu, sampai mereka pergi," ujar Mukti yang sembari menggendong anaknya, Rabu (6/3) sore itu.

Mukti mengaku sebetulnya ia sadar apa yang telah dilakukannya tersebut memang salah. Apalagi dengan keberadaannya yang menjajakan tisu di pinggir jalan, tak jarang menjadi sasaran polisi pamong praja.

Namun bukan tanpa alasan, melainkan kondisi Muhammad Wildan, putranyalah yang menjadi pelecut ayah empat anak itu.

Mukti terpaksa menekuni pekerjaan lepas tersebut lantaran kondisi putranya yang masih perlu mendapatkan perhatian khusus di luar perannya sebagaimana pencari nafkah keluarga.

Selain itu pertimbangan masih perlunya kebutuhan dana baik untuk keluarga maupun pengobatan tak terduga putranya, juga menjadi alasannya menjadi penjual tisu.

"Dulu saya sempat bekerja di warung makan. Tapi karena sering izin, sehingga saya pun diberhentikan," ceritanya.

Baca: Jalur Jemaah Haul Guru Sekumpul 2019 yang Datang dari Hulu Sungai, Dishub dan Relawan Imbau Ini

Baca: Kemarahan Paula Verhoeven Usai Ditegur Sosok Ini Karena Kelakuan Baim Wong, Ternyata Ini Ulahnya

Mukti juga mengaku seandainya kini ia punya modal cukup, ia tidak memilih berjualan tisu di jalan. Namun lagi-lagi kondisi itulah yang memaksanya seperti ini.

"Karena, kadang-kadang kalau apes, bisa dijaring Satpol PP," ujarnya.

Mukti juga mengaku menjadi penjual tisu penghasilannya pun pasang surut. Sehari-hari ia maksimal hanya mendapatkan keuntungan Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Namun penghasilan tersebut sudah sangat besar patut ia syukuri.

"Karena saya bisa mencukupi kebutuhan hidup bersama keluarga," tutupnya. (banjarmasinpost.co.id /Ahmad Rizki Abdul Gani)

Penulis: Ahmad Rizky Abdul Gani
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved