Tajuk

Satu Klik Kematian

HIDUP di era internet serba dimudahkan. Mau belanja, tidak perlu ke luar rumah. Cukup pakai smartphone, browsing cari toko online sesuai pilihan.

Satu Klik Kematian
Online shop.jpg 

BANJARMASINPOST.CO.ID - HIDUP di era internet serba dimudahkan. Mau belanja misalnya, tidak perlu ke luar rumah. Cukup pakai smartphone, browsing cari toko online sesuai pilihan, kemudian klik.

Pembayarannya juga sangat gampang. Cukup transfer uang sesuai dengan nilai barang dipesan ke rekening toko online. Tunggu beberapa hari, barang pesanan online pun sudah sampai ke pintu rumah.

Betapa mudah dan praktisnya belanja secara online, terutama bagi mereka tidak memiliki banyak waktu ke luar.

Survei terbaru lembaga riset Snapcart di Januari 2018 mengungkap generasi milenial menjadi pembelanja terbanyak di bidang e-commerce yakni sebanyak 50 persen (25-34 tahun). Sedangkan mayoritas konsumen belanja online berdasarkan gender adalah wanita dengan jumlah mencapai 65 persen. Jika digabung dengan generasi Z (15-24 tahun) maka jumlah pembelanja dari generasi muda mencapai sekitar 80 persen. Jadi anak-anak muda usia 15-34 tahun mendominasi 80 persen daripada penggunaan e-commerce.

Ada kemudahan, tentu ada pula kekurangannya. Salah satu kekurangan belanja secara online adalah kita tak bisa melihat kondisi barang secara langsung. Apakah kualitas produk terjamin bagus dan aman bagi konsumen. Sedangkan sebagian mereka penyuka berbelanja online, terkadang mengabaikan kekurangan ini. Bahkan tidak memedulikan risikonya.

Sikap abai itu bisa dilihat dari konsumen yang membeli obat secara online. Sejatinya, obat –terlebih lagi obat-obatan berdosis tinggi atau yang memiliki efek samping berbahaya—harus dibeli di apotek dengan seizin (resep) dokter. Tapi konsumen yang berbelanja secara online mengabaikan hal itu.

Data menyebutkan, obat yang kebanyakan konsumen beli secara online adalah obat pelangsing, disfungsi ereksi, obat mengatasi kebotakan, viagra, alat bedah kosmetik, jarum suntik, terapi penggantian hormon, prozac, valium, obat penghilang rasa sakit dosis tinggi, antibiotik, bubuk pelangsing, bahkan obat untuk kesuburan.

Ahli kesehatan dunia pun sudah memperingatkan berbahaya membeli obat-obatan dan suplemen dari internet. Risiko yang ditanggung jauh lebih besar ketimbang membeli obat dengan cara mengunjungi langsung apotek atau toko obat.

US Food and Drug Administration mengungkapkan bahwa 72 persen dari jenis obat-obat populer yang beredar secara online mengandung bahan kimia yang bisa menyebabkan stroke dan kematian mendadak. Di Adelaide, ada kasus di mana seorang wanita dirawat di rumah sakit karena psikosis akibat mengonsumsi suplemen pelangsing yang dibelinya secara online. Setelah diteliti, suplemennya mengandung sibutramine yang menyebabkan masalah jantung.

Maka, hati-hatilah membeli obat secara online. Satu klik saja bisa menyebabkan kesehatan Anda terancam, bahkan bisa berujung kematian. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved