Mereka Bicara

Peradaban

KETIKA menjadi Wali Kota Solo Presiden Joko Widodo pernah kena marah dari Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bibit Waluyo

Peradaban
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

KETIKA menjadi Wali Kota Solo Presiden Joko Widodo pernah kena marah dari Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bibit Waluyo. Pasalnya gubernur menghendaki sebuah bangunan tua milik salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang berlokasi di Solo diubah menjadi mal yang bisa mendatangkan keuntungan. Tapi Jokowi menolak dengan alasan itu bangunan bernilai sejarah yang tidak boleh digusur. Di tengah ketegangan itu Bibit bilang: "Bodoh kamu". Jokowi pun dengan santun menjawab: "Ya Pak, saya memang bodoh".

Itulah sepenggal memori yang kurang mengenakkan bagi Jokowi. Ia dimarahi di tengah kerumuman orang banyak yang sebagian para pejabat saat meninjau lokasi. Tak lama setelah itu Prabowo Subianto mengajak Jokowi mengadu nasib ke Jakarta. Ternyata sukses, ia menjadi Gubernur DKI. Saat pelantikan Wali Kota Solo pengganti dirinya, Jokowi bertemu Bibit, bersalaman sambil mencium tangan mantan atasannya tersebut. Hilanglah semua ganjalan.

Pemimpin memang harus punya visi, bayangkan seandainya Jokowi bikin mal, bagaimana nasibnya sekarang. Kita sekarang hidup dalam perubahan budaya yang begitu cepat. Banyak mal kini bangkrut. Dulu mal bukan hanya pusat perbelanjaan, tapi juga rekreasi.

Kini keadaan sudah berubah total. Orang tidak mau lagi susah-susah mencari hiburan di mal, tapi cukup berselancar lewat media sosial, apa pun ada.
Bukan lagi kaki yang cape menapaki lantai demi lantai mal, tapi cukup jempol yang bergerak mencari sasaran. Mau berita serius, hoaks, game, foto sopan sampai cabul, semua ada. Saat Jokowi dimarahi gubernurnya, keadaan belum seperti ini. Mungkin Jokowi pun tidak mengira akan perubahan yang sedemikan drastis.

Bukan hanya itu, cara berkomunikasi orang sekarang juga sudah berubah. Dulu orang butuh informasi harus menunggu koran yang memuat berita paling cepat sehari sebelumnya. Berita itu harus melalui proses yang panjang mulai pencarian bahan di lapangan, masuk proses redaksi, percetakan dan baru diedarkan pada pembaca. Sekarang begitu terjadi peristiwa dalam sekian detik orang di seluruh dunia sudah tahu. Siapa pun bisa bikin berita.

Tak heran kehidupan koran cetak sekarang goyah, banyak yang beralih ke media online. Koran terkemuka di Amerika Serikat yang hampir berusia 100 tahun, New York Time, mati. Di Indonesia ratusan penerbitan juga sekarat. Ikutannya, pabrik kertas mati, percetakan menganggur, loper-loper koran harus mencari kerja lain.

Generasi pun berubah begitu cepat. Sekarang ini yang lagi populer adalah generasi milenial, yang lahir antara 1980-1997 atau yang sering disebut generasi Y. Mereka disebut milenial karena satu-satunya yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi dihembuskan oleh Mannheim tahun 1923 (tirto.id)
***
Generasi ini sudah disusul generasi Z yang lahir pada rentang 1995-2014. Perlakuan dan kebutuhan mereka dengan generasi sebelumnya juga akan berbeda seperti halnya generasi milenial sekarang dengan pendahulunya, yang lebih suka kemapanan.

Apa yang menarik bagi generasi Y jika mereka dihadapkan dengan masalah politik. Mereka sudah cukup usia untuk terjun di politik tapi belum mencapai puncak kematangan, karena itu harus pintar-pintar memikatnya.

Dikaitkan dengan pilpres, generasi Y bisa lebih dekat dengan pasangan no urut 02 Prabowo/Sandi. Kecuali sesama muda, tawarannya juga menarik, OKOC, sebuah cara untuk membuka lapangan kerja dengan mudah. Tapi kalau melihat pengalaman OKOC di Jakarta tidak berjalan, golongan ini bisa beralih ke Jokowi/Ma'ruf.

Tawarannya lebih realistis, misalnya mengembangkan ekonomi digital, sasarannya memasuki industri 4.0. Ini lagi populer di negara industri untuk memadukan sistem cerdas dan otomasi dalam industri. Jadi sistem komputer akan saling terhubung, berkomunikasi satu sama lain untuk akhirnya membuat keputusan tanpa keterlibatan manusia sehingga pabrik pintar akan menjadi kenyataan.

Itu bagian dari ekonomi digital yang kini berkembang di Indonesia. Yang lagi ramai bisnis online, yang sudah memasuki era unicorn, yang nilai valuasinya lebih dari 1 miliar dolar AS. Jumlahnya belum banyk, baru Gojek, Bukalapak, Traveloka dan Tokopedia. Target Jokowi 1.000 unicorn. Di atasnya masih ada lagi seperti decacorn (10 milyar) dan hectocorn (100 miliar dolar AS).

Siapa bisa menggaet generasi Y akan memenangkan pertarungan dalam pilpres. Dari 152 juta pemilih, 34,2 persen adalah pemilih milenial (Tribunnews.com). Mungkin lima tahun ke depan sudah beda lagi karena perubahan peradaban demikian cepat bergulir. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved