Jendela

Langka yang Dirindu

PUNCAK haul ke-14 Tuan Guru Haji Zaini bin Abdul Ghani usai sudah. Ratusan ribu hingga jutaan orang dari berbagai penjuru

Langka yang Dirindu
Bpostonline
Mujiburrahman

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - PUNCAK haul ke-14 Tuan Guru Haji Zaini bin Abdul Ghani usai sudah. Ratusan ribu hingga jutaan orang dari berbagai penjuru, tumpah ruah ke kawasan Sekumpul, Martapura. Tak kurang dari 21.613 orang tenaga keamanan, dari ke polisian, TNI, Satpol PP, dan relawan diterjunkan. Ada pula layanan kesehatan, penginapan serta makanan dan minuman yang disediakan gratis untuk para tamu.

Meskipun pihak pemerintah memberikan bantuan, sebagai bentuk hormat dan cinta kepada Guru Zaini, hajatan tahunan ini pada dasarnya adalah dari, oleh dan untuk masyarakat. Aneka sumbangan sukarela yang diberikan masyarakat untuk para tamu di atas pada gilirannya melahirkan rasa kebersamaan yang luar biasa. Ada kebahagiaan sekaligus kesyahduan kolektif
yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Kebersamaan itulah kiranya yang ingin terus dijaga oleh para pecinta Guru Zaini. Dia adalah milik umat, bukan milik partai atau golongan. Karena itu, selama acara, semua alat peraga kampanye dalam radius beberapa kilometer disingkirkan panitia. Bahkan, Joko Widodo yang datang pada haul tahun lalu, dan Sandiaga Uno yang datang tahun ini, hanya hadir sebagai jemaah biasa tanpa pidato apa-apa.

Kebersamaan nan indah itu sebenarnya merupakan pengalaman jemaah yang rutin mengikuti pengajian Guru Zaini ketika beliau masih hidup. Orang-orang datang dengan pakaian putih sederhana. Yang punya mobil memberi tumpangan kepada yang tidak punya. Tidak ada pembedaan berdasarkan dukungan politik. Siapa pun tamu yang datang ke pengajian akan dihormati, setara dengan tamu-tamu lainnya.

Jemaah pengajian yang berduyun-duyun itu, pada umumnya sama-sama sedang memburu kedamaian hati. Sulit disangkal, pengajian Guru Zaini memang laksana embun pagi yang sejuk, membuat hati yang galau jadi tenang, dan pikiran jadi terang. Nasihatnya terasa amat mengena. Entah mengapa, tiap
orang yang datang lalu mendengarkan kata-katanya, merasa seolah dirinyalah yang sedang dinasihati Guru.

Selain nasihatnya yang mengena, Guru Zaini juga mengajak jemaahnya mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alquran, dan bersama-sama mendendangkan puji-pujian kepada Nabi, khususnya Maulid al-Habsyi. Selain tampan, Guru Zaini memang memiliki suara yang merdu. Suara basnya yang khas dan alunannya yang syahdu, membuat jemaahnya hanyut dalam alunan cinta surgawi pada baginda Nabi.

Guru Zaini bukan ulama karbitan, yang mengelabui masyarakat dengan gaya dan penampilan belaka. Dia bukan pula ulama selebritas, yang terkenal karena dipasarkan oleh media. Sejak belia, dia belajar ilmu-ilmu keislaman dengan para ulama, baik di pesantren atau di rumah mereka. Karena itu, pengajiannya bukan ‘ceramah bebas’, tetapi menelaah kitab-kitab induk di bidang hadis, tafsir, hingga tasawuf.

Sebagai pengajar dan pengamal tasawuf, Guru Zaini tentu seorang Sufi. Beliau mengajarkan karya besar al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn hingga tamat, entah berapa kali, selain risalah-risalah tasawuf kecil lainnya. Sejak 1994, beliau juga memperkenalkan Tarekat Sammaniyah kepada jemaahnya. Sebagai Sufi, Guru Zaini adalah pembimbing jalan ruhani yang biasa disebut syekh atau mursyid bagi murid-muridnya.

Dalam kedudukannya sebagai Guru Spiritual itulah, Guru Zaini menjadi pusat (center), laksanamagnet yang menyerap logam-logam di sekitarnya untuk mendekat. Ada kekuatan misterius, menggetarkan sekaligus mempesona. Ia laksana titik yang mengingatkan manusia tentang asal-usul dirinya dan ke
mana dia akan kembali. Ia laksana pohon rindang dan kokoh, tempat kita berteduh dan bersandar.

Dengan demikian, kita dapat memahami mengapa begitu banyak orang yang datang ke haul Guru Zaini setiap tahun. Mereka merindukan kebersamaan sejati, saling berbagi dan melayani dengan tulus. Mereka kangen dengan ibadah yang menghangatkan jiwa. Mereka haus akan nasihat yang mengena dan menyejukkan kalbu. Mereka berharap pada sosok guru yang dapat menjadi pandu ruhani.

Mereka rindu karena semua itu kini semakin langka! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved