Tajuk

Supersemar, Kini

SETIAP 11 Maret rakyat Indonesia selalu diingatkan dengan satu peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa

Supersemar, Kini
net
Seokarno 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP 11 Maret rakyat Indonesia selalu diingatkan dengan satu peristiwa yang menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa ini, terbitnya Surat Perintah 11 Maret atau yang lebih dikenal dengan Supersemar.

Surat ini ditandatangani Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966. Isinya memberi perintah kepada Jenderal Soeharto, yang saat itu menjabat Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu pascaperistiwa G 30 S/PKI.

Kini, setelah 53 tahun Supersemar, ada yang berbeda. Jika di masa-masa Orde Baru setiap tanggal lahirnya Supersemar diperingati bak momen sakral, sekarang gaungnya nyaris tak terdengar, dan terlewat begitu saja.

Dulu, pelajar yang berada di bangku sekolah di bawah era 2000-an masih banyak yang hafal dengan kepanjangan Supersemar. Sekarang, coba tanyakan
kepada anak-anak milenial, barangkali lebih banyak yang tidak tahu ketimbang tahu.

Kontroversi seputar isi perintah yang diberikan Soekarno kepada Soeharto menjadi salah satu alasan mengapa Supersemar seakan terlupakan. Sejumlah kalangan ada yang meragukan keaslian isi dari perintah sang Proklamator tersebut. Terlebih sejak rezim Soeharto tumbang, keraguan itu pun terus membayangi. Apalagi belakangan terungkap fakta adanya penyelewengan dana negara triliunan rupiah yang justru menyeret nama Supersemar.

Memang Supersemar dan Yayasan Supersemar bukanlah satu kesatuan. Yayasan Supersemar adalah sebuah organisasi nirlaba yang didirikan pada 16 Mei 1974 oleh Soeharto yang bertujuan membantu dunia pendidikan di Indonesia dengan bantuan pemberian beasiswa.

Pada tahun 2007, yayasan ini dan Soeharto digugat Kejaksaan Agung karena diduga telah menyalahgunakan dana donasi dari pemerintah yang besarnya
mencapai 1,5 triliun rupiah, namun hanya Yayasan Supersemar yang terbukti bersalah dan diharuskan mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 185,92
miliar.

Namun, hal itu secara tidak langsung membuat keraguan orang terhadap Supersemar makin menjadi-jadi. Tentang adanya dugaan Supersemar cuma alat untuk mengambil kekuasaan dari Soekarno.

Sampai sekarang misteri dan kontroversi isi Supersemar itu tak kunjung terkuak. Hingga para saksi sejarahnya pun satu per satu wafat tanpa meninggalkan pesan dan penjelasan mengenai Supersemar.

Hari ini 11 Maret. Tak ada lagi gaung peringatan Supersemar. Namun, sejarah tentang surat sakti ini tetaplah menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa yang perlu diketahui generasi berikutnya. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved