Berita Banjarmasin

Anggaran dan Judul Penelitian ULM Turun, Dosen Liling Ungkap Pernah Gagal Dapatkan Dana Riset

Berdasar Data Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, dana Rp 1,52 triliun itu paling banyak didapat UGM yakni 485 judul.

Anggaran dan Judul Penelitian ULM Turun, Dosen Liling Ungkap Pernah Gagal Dapatkan Dana Riset
capture /banjamasin Post
Harian Banjarmasin Post edisi Cetak Rabu (13/3/2019) Halaman 1 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengucurkan dana Rp 1,52 triliun, sebagai dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) untuk riset dan pengabdian kepada masyarakat tahun anggaran 2019.

Anggaran sebanyak itu bukan hanya untuk dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM), tapi untuk seluruh Indonesia. Berdasar Data Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, dana Rp 1,52 triliun itu paling banyak didapat Universitas Gadjah Mada yakni 485 judul.

Di belakang UGM menyusul Universitas Indonesia dengan 480 judul, Institut Teknologi Bandung dengan 424 judul, Institut Pertanian Bogor dengan 323 judul, Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan 316 judul, Universitas Diponegoro dengan 313 judul, Universitas Hasanuddin dengan 279 judul, Universitas Padjadjaran dengan 275 judul, Universitas Airlangga dengan 266 judul, dan Universitas Sumatera Utara dengan 250 judul.

Sementara itu, berdasar Data Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Lambung Mangkurat (ULM), ULM hanya mendapat 46 judul.

Baca: Istri Terduga Teroris Sibolga Akhirnya Ledakkan Diri Pukul 02.00 WIB, Ini Penjelasan Mabes Polri

Baca: Bom Meledak Saat Polisi Periksa Rumah Terduga Teroris di Sibolga, Dua Orang Terkena Serpihan

Ketua LPPM ULM, Prof Mochamad Arief Soendjoto, merinci untuk penelitian multi tahun ULM gol 20 judul dengan dana Rp 6,41 miliar, penelitian mono tahun sebanyak 16 judul dengan dana Rp 2,16 miliar dan pengabdian kepada masyarakat sebanyak 10 judul dengan dana Rp 561.600.000.

Arief tidak menampik bila tahun 2019 ini terjadi menurun sedikit, dibanding perolehan tahun 2018 lalu.

"Kondisi litabmas pendanaan DRPM. Penelitian tahun 2018 ada 64 judul dengan anggaran Rp 5.260.644.000. Sementara pada tahun 2019 ini hanya 36 judul dengan anggaran Rp 4.985.268.500. Turun hampir separuh pada jumlah judul dan hampir Rp 300.000.000 pada dana," ujarnya, kemarin.

Sementara untuk pengabdian masyarakat, pada tahun 2018, Arief mengatakan ada 21 judul dengan dana Rp 1.514.200.000. "Pada tahun 2019 ini 10 judul dengan dana Rp 561.600.000. Juga turun signifikan baik pada judul maupun dananya," ujarnya.

Tidak Mudah
Dari cerita para dosen, tidak mudah mendapatkan dana penelitian itu. Liling Triyasmono, dari FMIPA ULM, mengaku dia sendiri pernah merasakannya.

“Meski sudah berpengalaman panjang meneliti, saya juga pernah mengalami sebuah riset tidak tembus didanai. Untuk mendapat dana penelitian harus ulet, mau belajar, dan terus berusaha,” ujar Liling, dosen farmasi yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum FMIPA ULM .

Kuncinya, kata Liling, harus berbesar hati, karena dana itu sifatnya hibah kompetitif. “Suatu saat pasti ada saja mengalami kegagalan, karena proposal yang ajukan kalah dengan pengusul lain,” ujarnya.

Baca: Sipir Cantik Yola Lakukan Ini Ketika 250 Napi Pindahan Lapas Teluk Dalam tiba di Lapas Banjarbaru

Baca: Ketua RT Ungkap Sosok Misterius R Sebelum Terduga Teroris Abu Hamzah Ditangkap di Sibolga

Caranya, lanjut Liling, cari celah dimana letak kelemahan proposal. “Baca panduan penelitian dengan seksama, pertajam topik sesuai dengan penelitian, terus menulis dan mencari kebaruan, up to date jurnal-jurnal yang mendukung penelitian kita. Banyak berdoa," ujarnya.

Liling mengatakan penelitian yang dihasilkan juga sudah harus siap hilirisasi dan bekerja sama dengan industri sehingga bermanfaat.

“Saya pernah gagal satu kali, selama periode 2014-2018. Yaitu tahun 2017, waktu itu skim penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi, usulan dana Rp 250 juta. Dari kegagalan itu, saya introspeksi dan mengkaji kembali dimana letak kegagalannya. Kemudian terfasilitasi dari pelatihan dan klinik proposal yang diadakan oleh LPPM dan FMIPA ULM sehingga 2018 dapat lagi," ujarnya. (banjarmasinpost.co.di/kur)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved