Ekonomi dan Bisnis

Pengusaha Travel Umrah Banua Protes, Penjualan Tiket Garuda Indonesia Dimonopoli

Para pengusaha biro haji dan umrah lokal harus melakukan pembelian kepada agen besar yang ditunjuk tersebut dengan selisih harga yang lebih mahal.

Pengusaha Travel Umrah Banua Protes, Penjualan Tiket Garuda Indonesia Dimonopoli
banjarmasin post group/ m maulana
Pesawat Garuda Indonesia saat bersandar di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kebijakan baru Direksi Garuda Indonesia mengenai penjualan tiket umrah menuai kontroversi. Praktik monopoli pun dinilai kental, lantaran penjualan tiket penerbangan umrah dengan Garuda Indonesia hanya bisa dilakukan beberapa biro perjalanan besar di Jakarta.

Garuda Indonesia telah menunjuk empat agen besar di Jakarta untuk melayani penjualan tiket penerbangan umrah. Keempat biro perjalanan tersebut adalah NRA, Maktour, Kanomas dan Wahana. Kebijakan baru tersebut dianggap bisa merugikan pelaku biro haji dan umrah lokal yang selama ini menggunakan maskapai Garuda Indonesia untuk melayani jemaahnya.

Protes keras pun disampaikan sejumlah pengusaha travel di tanah air. Di Banua, salah satunya seperti disampaikan Direktur Utama PT Albis Nusa Wisata, Utami Dewi.

Menurut Dewi, sapaannya, pihaknya sudah tidak bisa memesan tiket secara langsung kepada Garuda Indonesia cabang Banjarmasin.

Baca: Tiket Garuda Hanya Dijual di Agen Besar Jakarta, Agent Tour di Banjarmasin Akui Keberatan

Untuk mendapatkan tiket, para pengusaha biro haji dan umrah lokal harus melakukan pembelian kepada agen besar yang ditunjuk tersebut dengan selisih harga yang lebih mahal.

"Ini sangat berimbas besar kepada kami agen daerah. Jadi kami agen umrah di sini juga tidak bisa melakukan pembukuan, booking, dan beli tiket Garuda di kantor cabang banjarmasin," ungkap Dewi.

Selain itu, ditambahkan dia, per 1 Maret 2019 Garuda Indonesia juga merilis harga baru yang kenaikan harganya mencapai Rp 2,4 jutaan untuk rute PP Banjarmasin-Jeddah. "Terpaksa kami harus tinggalkan Garuda saat ini. Karena sulitnya membeli dan harga menjadi sangat melambung," keluh Dewi.

Sementara ini, diakuinya jemaah Albis Nusa Wisata khususnya sebagian diberangkatkan dengan menggunakan maskapai penerbangan lain seperti Saudia Airlines, Emirates atau Etihad.

Dia pun berharap, pihak pemerintah dapat bertindak dan mendengar aspirasi para agen agar tidak terjadi monopoli dalam penjualan tiket umrah Garuda. "Rencana kami akan gelar konferensi pers melibatkan sejumlah agen lainnya, Kaltrabu, Wahdan, Altaif dan lain-lain dan juga pihak Garuda mengenai hal ini," tukasnya.

Sementara itu, sejumlah pengusaha travel umrah di Solo bahkan menyatakan akan memboikot maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

Baca: Suli Bawa 2 Ons Sabu dari Jawa Timur, Ditangkap Saat Turun dari Kapal Roro di Jalan Barito Hilir

"Kami sangat menyesalkan kebijakan baru dari Garuda Indonesia. Masak terbangnya dari Solo, beli tiketnya di Jakarta. Kita akan boikot, kita akan beralih ke Citilink atau Lion Air," ujar Ketua Persaudaraan Pengusaha Travel Umrah dan Haji Indonesia (Perpuhi), Her Suprabu, Senin (11/3).

Akibat penjualan tiket yang dimonopoli, selisih harga bisa mencapai Rp 1 juta dibanding harga sebelumnya. Selain monopoli penjualan tiket, para pengusaha travel juga merasa kecewa dengan sikap manajemen Garuda Indonesia. Mereka dianggap tidak memiliki komitmen bersama.

Pasalnya, kehadiran awal rute Solo-Madinah dan Solo-Jeddah yang saat ini dianggap sudah berkembang dan menjadi rebutan oleh sejumlah maskapai tidak terlepas dari kontribusi para biro umrah di Solo.

"Kami mendesak kepada Garuda Indonesia agar segera mencabut kebijakan itu. Kalau tuntutan ini tidak diindahkan, kita bersepakat untuk memboikot Garuda Indonesia untuk layanan penerbangan jemaah umrah," katanya. (naa/mrdk)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved