Berita Kotabaru

Penjelasan Pemkab Kotabaru Soal Polemik Petani, Koperasi dan Pabrik PT BLL di Cantung

Penjelasan Pemkab Kotabaru Soal Polemik Petani, Koperasi dan Pabrik PT BLL di Cantung

Penjelasan Pemkab Kotabaru Soal Polemik Petani, Koperasi dan Pabrik PT BLL di Cantung
banjarmasin post group/ man hidayat
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kotabaru, Zainal Arifin 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Pabrik Sawit PT Banua Lawas Lestari (BLL) di Cantung Kecamatan Kelumpang Hulu Kabupaten Kotabaru yang sempat didemo petani dan Koperasi Borneo Sejahtera Cantung tak kunjung selesai.

Setelah beberapa kali melakukan pertemuan dengan kedua belah pihak, masih belum ada penyelesaian. Masalah harga dan kesepakatan dengan koperasi dan petani sawit dengan perusahaan, masih belum sepakat semua.

Pasalnya, pada Selasa (12/3/19) kemarin, pertemuan kembali digelar di Aula Kecamatan Kelumpang Hulu. Namun, masih ada beberapa poin yang masih belum singkron sehingga kembali akan dilakukan pertemuan lanjutan.

Pertemuan tersebut sudah di mediasi Pemerintah Daerah Kabupaten Kotabaru, melalui Dinas Koperasi dan UKM Kotabaru yang memimpin rapat. Namun, masih ada beberapa hal yang belum sepakat. Kedua belah pihak berhadir, petani, koperasi dan pihak PT BLL.

Baca: Hasil Akhir Barito Putera vs Persela Lamongan, Skor 1-1, Persela Juara Grup E Piala Presiden 2019

Baca: Link Live Streaming RCTI, Bayern Munchen vs Liverpool Leg Kedua 16 Besar Liga Champion Malam Ini

Baca: Bacaan Doa Buka Puasa Hari Ke-6 Puasa Rajab 2019 dan Keutamaan Ibadah Puasa di Bulan Rajab

Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kotabaru, Zainal Arifin, Rabu (13/3/19) mengatakan dari pertemuan kemarin memang masih ada pembahasan lagi. Ada beberapa hal yang harus direview ulang agar kedua belah pihak benar-benar sepakat.

Dari beberapa poin yang dihasilkan di antranya masalah kesepakatan harga agar tidak jauh dari ketetapan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Selatan.

Sebab belakangan harga sawit petani hanya dihargai sekitar Rp 700 hingga Rp 800 sehingga petani menjerit dan koperasi meminta harga yang wajar.

Poin lainnya, pihak koperasi meminta agar fee sawit perkilonya Rp 10rupiah sesuai kesepakatam dan itu sudah berjalan. Namun, sempat ada permintaan fee 5 rupiah perkilogram bila ada petani lain diluar koperasi namum ditolak perusahaan. Meski begitu akhirnya masalah fee selesai.

"Selain dua itu, juga ada permintaan dari koperasi agar transportir dikelola koperasi dan penyediaan BBM. Namun pihak perusahaan mengaku bisa saja mengakomodir permintaan itu melalui proposal asalkan sesuai," katanya.

Namun menurut Zainal, yang sangat diinginkan agar tidak terjadi perselisihan adalah masalah harga. Keinginan mereka itu berharap agar harga tidak terlalu jauh dari Rp 1.100 atau Rp 1.200 tidak sampai turun sampai Rp 700 hingga Rp 800.

Baca: Doa Luna Maya di Hari Pernikahan Syahrini dan Reino Barack Terungkap, Diucapkan Saat Umrah

Baca: Reaksi Billy Syahputra Saat Hilda Vitria Disebut Dekat Dengan Eks Rekan Roy Kiyoshi, Robby Purba

"Masalah harga memang mengacu pada Permentan 98 ketetapan Dinas Perkebunan setiap bulan diupdate sesuai harga pasaran. Tidak bisa ditentukan karena yang menentukan dari perkebunan provinsi. Hanya saja, pihak perusahaan melihat kualitasnya dan mengaku tiap sawit kualitasnya berbeda," katanya.

Menurut Zainal, permasalahan harga ini memang masih sulit dan ini masih akan direview pada 20 Maret mendatang. Persoalan itu kembali akan dibahas dan berharap, itu merupakan rapt terakhir dan ada putusan. "Penilaian kualitas ini belum jelas, makanya harus benar-benar disepakati agar tidak terjadi masalah lagi," pungkasnya.

(banjarmasinpost.co.id/man hidayat)

Penulis: Man Hidayat
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved