Ekonomi dan Bisnis

Menilik Perkembangan Bisnis Intan di Martapura, Bahan Baku Semakin Susah Didapat

Bisnis Intan di Martapura masih eksis, namun mengalami pergeseran sebagi objek wisata bagi para turis yang berkunjung ke Bumi Serambi Mekkah tersebut.

Menilik Perkembangan Bisnis Intan di Martapura, Bahan Baku Semakin Susah Didapat
banjarmasinpost.co.id/mariana
Pengelola Pusat Informasi Pariwisata dan Penggosokan Intan Martapura Binaan KPw Bank Indoneseia Kalsel, Burhanuddin menjelaskan produk intan kepada awak media 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Bisnis Intan di Martapura masih eksis, namun mengalami pergeseran sebagi objek wisata bagi para turis yang berkunjung ke Bumi Serambi Mekkah tersebut.

Seperti yang diungkapkan pengelola Pusat Informasi Pariwisata dan Penggosokan Intan Martapura, H Burhanuddin.

Saat ini penjualan cenderung menurun dari beberapa tahun lalu yang sempat booming.

Di tempat penggosokan intan yang bekerjasama dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) ini, menjual pehiasan yang berbahan dasar intan kemudian dibentuk menjadi cincin.

"Harganya beragam tergantung hasil penggosokan yang dilakukan, paling murah seharga Rp 3 juta untuk satu cincin, dan paling mahal mencapai ratusan juta," ujar Burhanuddin kepada Banjarmasinpost.co.id, Jumat (15/3/2019).

Baca: Pengusaha Indonesia Diduga Ditawari Prostitusi Online Seungri BIGBANG Usai Video Asusila Tersebar

Baca: Nikita Mirzani Kembali Bongkar Hubungan Syahrini dan Reino Barack, Juni Keduanya Sudah di Jepang

Baca: Video Viral Pemuda Ngamuk Preteli Honda Beat Saat Ditilang, Ini Kronologinya

Baca: Sindiran Aisyahrani Kala Pengantin Baru Syahrini dan Reino Barack Langsung Syuting Iklan

Dalam pembuatan perhiasan ini, kualitas dapat dilihat berdasarkan empat hal yaitu warna, penggosokan, kebersihan dan karat.

Semakin baik empat hal tersebut, diakui Burhanuddin semakin mahal

Mengenai omzet, dia tidak menyebutkan secara spesifik, yang jelas menurutnya dalam beberapa bulan ini sudah terjual cincin seharga Rp 4 juta.

Dari sebanyak 20 orang yang menjadi pengrajin, kini hanya tersisa sekitar empat orang.

Hal ini lantaran bahan baku yakni intan semakin sulit didapat.

Halaman
12
Penulis: Mariana
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved