Raih Jutaan Rupiah dari Konten Kebakaran

Pernah Dapat Bullying Saat Ambil Gambar Video Pakai Ponsel di Tempat Kejadian Kebakaran

Pernah Dapat Bullying Saat Ambil Gambar Video Pakai Ponsel di Tempat Kejadian Kebakaran

Pernah Dapat Bullying Saat Ambil Gambar Video Pakai Ponsel di Tempat Kejadian Kebakaran
istimewa/ Ibnul Hamid untuk BPost Group
Ibnul Hamid (22) youtuber yang juga calon radiografer dari Kandangan, Hulu Sungai Selatan yang kini memiliki 16 ribu subscriber. FOTO : ISTIMEWA 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN -  Membuat channel  Youtube, sudah dilakukan Ibnul Hamid, mahasiswa jurusan Teknik Radilgrafi dari Jalan Singakarsa Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini sejak dia SMP.

Sebelum konten khusus kebakaran, 2013 silam, konten yang dia upload adalah breakdance. Baru setelah SMA Ibnu mengubah kontennya menjadi kebakaran dan rescue. Saat mengangkat tema tersebut, Ibnu mengaku sempat punya 100 ribu subriber.

Saat itu, selain mengupload video kebakaran, juga kecelakaan lalu lintas, dan evakuasi mayat korban-korban kriminal. Tapi akhirnya dia hapus karena merasa itu ranahnya pihak kepolisian.

“Keputusan menghapus juga saya lakukan setelah memahami, tak semua hal layak ditayangkan ke publik. Meski itu mengundang minat orang untuk menonton,”katanya.

Baca: Pesan Menohok Luna Maya & Goda Gading Marten Usai Pernikahan Syahrini dan Reino Barack, Gisella?

Baca: Gisella Anastasia Dicecar Mantan Mertua Gading Marten Soal Hubungannya dengan Wijaya Saputra

Baca: Jadwal Undian (Drawing) Babak Perempatfinal Liga Champions 2018/2019 Hari Ini

Baca: Hasil lengkap Liga Europa, Chelsea dan Arsenal Unjuk Gigi Jadi Wakil Liga Inggris

Kata Ibnu, harus pula mempertimbangkan efek psikologis bagi keluarga korban. Jika kita menayangkan  yang berdarah-darah, juga tidak baik apalagi jika ditonton anak-anak. Ibnu menuturkan, awal-awal dia menjadi youtuber, hanya menggunakan kamera ponsel atau telepon genggam.

Untuk mengejar tempat kejadian, menggunakan sepeda motor Mio dilengkapi sirine dan strobo.

“Saat ada kejadian, saya berupaya mengejar dengan motor mio sendirian, sambil mengiringi mobil pemadam. Orang tidak tahu saya juga relawan. Ada yang paham memberi jalan, ada pula yang tidak. Saat merekam dengan telepon genggam, saya sering dibully warga. Mereka bilang, datang ke TKP itu bukan untuk memvideo, tapi buat menolong. Bagi saya ini tantangan dan risiko memilih tema  terkait musibah,” ungkapnya.

(banjarmasinpost.co.id/hanani)       

Penulis: Hanani
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved