Mereka Bicara

Mengenal MJO Pemicu Cuaca Ekstrem di Indonesia

BEBERAPA hari terakhir hampir di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi cuaca ekstrem yakni curah hujan dengan intensitas sedang

Mengenal MJO Pemicu Cuaca Ekstrem di Indonesia
AFP PHOTO
Ilustrasi 

Oleh: Yosef Luky DP SST, Prakirawan Iklim Stasiun Klimatologi Banjarbaru

BANJARMASINPOST.CO.ID - BEBERAPA hari terakhir hampir di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi cuaca ekstrem yakni curah hujan dengan intensitas sedang – lebat yang berlangsung beberapa jam disertai angin kencang dan puting beliung. Efek kejadian ini begitu luar biasa, bencana hidrometeorologi terjadi dimana-mana.

Banjir menerjang hampir di sebagian besar kabupaten / kota di provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat. Curah hujan yang berlangsung beberapa hari menyebabkan ribuan penduduk di kedua provinsi tersebut mengungsi, bahkan banjir juga menerjang jalan tol sehingga menyebabkan gangguan lalu lintas yang cukup signifikan. Tidak hanya di pulau Jawa, beberapa daerah di Sulawesi dan Sumatera tidak luput dari dampak fenomena cuaca ekstrem ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat cuaca ekstrem yang terjadi saat ini karena adanya fenomena Madden Julian Oscilation (MJO). Lalu apa itu MJO? MJO pertama kali ditemukan oleh dua peneliti yakni Madden & Julian pada tahun 1971, oleh karenanya nama kedua peneliti ini diabadikan menjadi nama fenomena ini.

MJO sendiri adalah gelombang atmosfer di wilayah tropis yang tumbuh dan berkembang di Samudra Hindia akibat interaksi atmosfer dan lautan global dengan periode 30-90 hari dan bergerak kearah timur. Akibat fenomena ini curah hujan, pergerakan angin, suhu muka laut, kondisi cuaca, dan tekanan udara yang melintasi daerah planet akan meningkat. Dibandingkan fenomena intraseasonal lain, MJO memiliki sinyal paling dominan dan relatif mudah untuk diamati.

MJO dan Dampaknya Terhadap Wilayah Indonesia

Untuk lebih memahami konsep MJO, mari kita ulas dulu musim di Indonesia. Apabila diibaratkan, musim di Indonesia itu laksana gelombang yang memiliki siklus, dimana musim hujan yang terjadi akan selalu diikuti oleh musim kemarau. Siklus ini berulang setiap tahun dan waktu terjadinya bervariasi tergantung lokasi geografis.

Untuk wilayah yang berada di sebelah selatan equator misalnya musim hujan akan terjadi pada akhir dan awal tahun sementara musim kemarau akan terjadi pada pertengahan tahun begitu seterusnya. Seperti halnya musim, MJO juga bisa diibaratkan seperti gelombang, atau lebih tepatnya gelombang yang merambat.

Berbeda dengan musim, siklus MJO ini tidak terjadi setahun sekali, tapi setiap 30-90 hari dan bergerak dalam bentuk anomali konvektif yang mengelilingi bumi dari barat ke timur. Karena proses pembentukan awan dan hujan di wilayah tropis sangat dipengaruhi oleh proses konvektif (akibat pemanasan bumi oleh radiasi matahari), maka otomatis MJO sangat berpengaruh terhadap cuaca di Indonesia. Pada saat MJO melintas, daerah yang dilaluinya akan mengalami apa yang disebut sebagai periode basah, yang kemudian diikuti periode kering.

Pada saat periode basah terjadi, perawanan meningkat secara signifikan, mendung terjadi sepanjang hari dan terkadang diikuti oleh hujan ringan hingga lebat, angin kencang dari barat. Periode basah ini biasanya terjadi selama 5-15 hari lalu datanglah periode kering.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved