Berbahaya Dibanding Merokok, Polusi Udara Bunuh Lebih Banyak Orang

Bukan rahasia lagi polusi udara mengganggu banyak orang, bahkan menyebabkan kematian.

Berbahaya Dibanding Merokok, Polusi Udara Bunuh Lebih Banyak Orang
AFP
polusi udara 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Bukan rahasia lagi polusi udara mengganggu banyak orang, bahkan menyebabkan kematian.

Tapi, siapa sangka polusi udara bertanggung jawab atas lebih banyak kematian dibanding merokok.

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, jumlah orang yang meninggal akibat polusi udara dapat melebihi total orang yang terbunuh akibat rokok.

Para peneliti dari Jerman tersebut memperkirakan bahwa sebanyak 8,8 juta kematian per tahun dikaitkan dengan udara kotor.

Menurut perkiraan mereka, di Eropa ada lebih dari 790.000 kematian tambahan sebagai akibat polusi udara.

Angka ini bahkan dua kali lipat dari perkiraan sebelumnya, yang tidak memperhitungkan dengan tepat tingkat tambahan penyakit kardiovaskular.

Baca: Kemarahan Terpendam Suami Syahrini, Reino Barack Diungkap Sosok Ini, Berkaitan dengan Luna Maya?

Baca: Aurel Hermansyah Beri Respons Berbeda Pada Krisdayanti dan Ashanty, Putri Anang Beri Love Untuk Ini

Baca: Minum Susu yang Dicampur Buah dan Rempah ini Sebelum Tidur dan Rasakan Manfaatnya

Baca: Kisah Luna Maya, Reino Barack dan Syahrini, Bikin Netizen Beri Nama Anaknya Syahreina Luna Barack

"Untuk menempatkan ini ke dalam perspektif, ini berarti bahwa polusi udara menyebabkan lebih banyak kematian tambahan setahun daripada merokok tembakau, yang diperkirakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bertanggung jawab atas 7,2 juta kematian tambahan pada tahun 2015," kata Profesor Thomas Munzel, salah satu dari penulis penelitian ini.

"Merokok bisa dihindari tetapi polusi udara tidak," sambung peneliti dari University Medical Center Mainz itu dikutip dari The Independent, Rabu (13/03/2019).

Partikel-partikel jelaga dan nitrogen oksida yang dipompa keluar oleh knalpot mobil, pabrik dan pembangkit listrik dapat membentuk campuran yang merusak.

Partikel-partikel itu secara signifikan meningkatkan tingkat serangan jantung, stroke, dan serangan asma yang parah.

Halaman
123
Editor: Edinayanti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved