Suara Rekan

Kronika Komitmen

KETUA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo punya pengalaman unik, bahkan aneh untuk zaman sekarang

Kronika Komitmen
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - KETUA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo punya pengalaman unik, bahkan aneh untuk zaman sekarang. Suatu ketika istrinya sakit, dia harus membawa ke rumah sakit. Tapi sopirnya tidak boleh membawa mobil, disuruhnya duduk di belakang seperti bos. Agus mengemudikan sendiri mobilnya, di sebelahnya duduk istrinya yang sakit. Setelah mengantar istrinya, dia meluncur ke kantor, tapi kali ini sopirnya yang mengemudikan dan Agus Raharjo duduk di bangku yang biasanya dia tempati.

Ternyata alasannya sepele, mengantar istri ke rumah sakit itu urusan pribadi, sedang sopir adalah fasilitas dari kantor yang hanya untuk urusan dinas sehingga tidak selayaknya mengantar ke RS yang notabene urusan pribadi. Ini dia ceritakan di sela-sela acara peluncuran aplikasi Sistem Informasi Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan Daerah di Bandarlampung (Kompas 9/3/2019).

Komitmen pencegahan korupsi, katanya, bisa dimulai dari hal yang sederhana. Contohnya KPK melarang pegawainya membawa pulang mobil dinas. Mobil dinas hanya dipakai untuk urusan kantor.

Apa yang dikatakan Agus menunjukkan komitmen dirinya sebagai rasa tanggung jawab atas kepercayaan negara yang diembannya. Komitmen sebenarnya kunci dari semua upaya untuk mencegah penyelewengan.

Sekarang ini jarang orang memegang komitmen secara bertanggung jawab. Anggota DPR/DPRD, penegak hukum, pejabat pemerintah bisa diraba sejauh mana komitmennya terhadap sebuah tanggung jawab. Korupsi masih merajalela di semua lini, bahkan sampai tingkatan terbawah, juga akibat tidak menjaga komitmen yang harus dipegang teguh, yakni kejujuran. Semua pejabat disumpah sebelum melaksanakan tugasnya, tapi begitu duduk di kursi kekuasaan semua isi sumpahnya hilang dari ingatan. Korupsi seperti sebuah mekanisme yang mau tak mau harus dijalankan.

Bukan hanya di lingkungan pemerintahan, organisasi olahraga pun tak bebas dari korupsi. Lihat saja PSSI, lembaga tertinggi yang mengurusi sepak bola juga terpuruk akibat terbongkarnya korupsi. Lebih dari 12 orang pengurus, wasit sampai pejabat ketua Umum Djoko Driyono kini jadi tersangka karena terlibat pengaturan skor. Satgas Mafia Bola Polda Metro masih terus mencari para pecundang yang biasa mengelabuhi masyarakat lewat hasil pertandingan yang sudah diatur sebelumnya. Ujung dari semua ini tentulah duit yang jadi keuntungan siapa pun yang terlibat di dalamnya.

Terasa aneh, sepak bola yang digandrungi oleh masyarakat dengan dukungan penuh pada tim kesayangannya ternyata cuma sandiwara. Padahal ada suporter yang sampai harus meregang nyawa. Banyak Kabupaten/kota sekarang memiliki stadion sepak bola yang megah karena kecintaannya terhadap sepak bola. DKI Jakarta bahkan berencana membangun stadion termegah di Indonesia senilai Rp 5 triliun yang pembangunannya baru saja diresmikan di Jakarta Utara.
***
Zaman sekarang korupsi bukan hanya mark up pembelian barang atas uang APBN/APBD, tapi suap menurut undang-undang juga masuk kategori korupsi. Kebanyakan pejabat sekarang terjerat korupsi lewat suap dari atau ke mitra kerja. Orang swasta pun banyak yang kena pasal korupsi. Gubernur Jambi yang masih muda belia (39 th), Zumi Zola dihukum karena menerima suap dari pengusaha swasta sekaligus menyuap anggota DPRD agar RAPBD-nya disahkan. Belum setahun menjabat harus lengser, sungguh disayangkan.

Terakhir Ketua Umum PPP Romahurmuziy ditangkap KPK di Surabaya saat mengatur pergantian pejabat di lingkungan Kementerian Agama. Sejumlah pejabat Kemenag ikut ditangkap. Penangkapannya sangat mengejutkan karena Romahurmuziy tokoh muda yang terkesan bersih.

Dia melengkapi tokoh-tokoh politik yang sudah diciduk sebelumnya, seperti Lutfi Hasan Ishaq (Presiden PKS), Anas Urbaningrum (Ketua Umum Partai Demokrat), Setya Novanto (Ketua Umum Golkar, Suryadharma Ali (Ketua Umum PPP).

KPK itu hanyalah pemadam kebakaran, yang bisa mencegah suap adalah dirinya sendiri. Kalau orang bisa memegang teguh komitmen rasanya sulit untuk bisa ditembus amplop. Paling bobrok adalah mereka yang sejak awal menjabat sudah bercita-cita korupsi. Andai ada labelnya, jangan pilih mereka dalam kedudukan apapun.

Membangun karakter bukan pekerjaan mudah. Sejak zaman Soeharto berkuasa sampai sekarang karakter bangsa masih begitu-begitu saja, yang paling kentara sifat serakahnya. Siapa pun presidennya tak ada yang ditakuti karena komitmen sudah menjadi barang langka.(*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved