Tajuk

Kejutan Jelang Pilpres

MATA dunia terlebih lagi kaum muslim dikejutkan dengan aksi penembakan sadis oleh seorang Brenton Tarrant memberondong jemaah salat Jumat (17/3/2019).

Kejutan Jelang Pilpres
(ANTARA FOTO/INDRIANTO EKO SUWARS)
Romahurmuziy Ketua Umum PPP ditetapkan sebagai tersangka kasus suap jual beli jabatan di Kemenag Jatim oleh penyidik KPK. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - MATA dunia terlebih lagi kaum muslim dikejutkan dengan aksi penembakan sadis oleh seorang Brenton Tarrant memberondong jemaah salat Jumat (17/3) di dua masjid pusat kota Christchurch, Selandia Baru.

Pria berusia 28 tahun yang dalam manifestonya tercatat sebagai warga Australia itu menghabisi 49 nyawa muslim sekaligus dengan senjata jenis Shotgun. Sebanyak 41 korban tewas ditemukan di Masjid Al-Noor, selebihnya Masjid Linwood dan di jalan-jalan. Arus kecaman atas ulah biadab Brenton inipun seolah memecahkan citra negara Selandia Baru yang dikenal damai itu.

Duka itupun sampai ke negeri ini. Muhammad Abdul Hamid alias Lilik Abdul Hamid, warga negara Indonesia (WNI), alumni Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang, Banten, dilaporkan juga menjadi korban tewas sebagai syahid di Masjid Al Noor di Christchurch.

Pada hari yang sama, negeri ini dikejutkan adanya operasi tangkap tangan (OTT) KPK yang mengamankan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuziy alias Rommy yang juga anggota DPR di Hotel Bumi Surabaya. Sehari berikutnya, KPK resmi menetapkan Romy sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dalam seleksi jabatan di Kementerian Agama.

Tertangkapnya Ketum PPP ini tentu menimbulkan dampak menggerus kepercayaan publik terhadap partai bahkan juga sampai pada tingkat koalisi partai.

Dengan demikian, Romy menjadi Ketua Umum PPP yang kedua terjerat masalah hukum di KPK. Sebelumnya, Suryadharma Ali yang ketika itu menjabat sebagai ketum PPP, juga dijerat oleh KPK pada 2014 silam karena tersangkut kasus korupsi dana haji saat menjabat Menteri Agama di kabinet Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono.

Publik tentu mengapresiasi kinerja KPK yang terus maju memberantas koruptor. Tapi publik juga miris mendapati orang-orang yang terjerat kasus korupsi justru mereka yang seharusnya berada di garda depan mengawal aspirasi rakyat, menjadi wakil rakyat, bukan malah menghianati rakyat.

Tertangkapnya Romy makin menambah daftar deret ketua umum parpol yang terjerat korupsi menyususl Luthfi Hasan Ishaaq, Anas Urbaningrum, Suryadharma Ali hingga Setya Novanto.

Lebih memprihatinkan lagi, figur pemimpin parpol sebagai politisi muda semestinya membawa angin segar dan perubahan positif pada atmosfir perpolitikan negeri ini, namun kenyataannya justru terjebak pada sistem lama. Ini menjadi peringatan keras proses alih generasi politik negeri. Regenerasi di tubuh parpol seolah semu. Itu karena politisi muda kebanyakan bawaan senior sehingga mereka ikut terseret arus pola pikir dan budaya seniornya. Berikutnya, kejutan apa lagi yang bakal muncul jelang pilpres. Semoga saja, tidak lagi kejutan yang mengurut dada, tapi yang menyejukkan dada. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved