Ekonomi dan Bisnis

Terpuruk Sempat Jadi Tukang Ojek, Eef Bangkit dan Usaha Jamurnya Diekspor Hingga ke Malaysia

Hidup seperti roda pedati, kadang di atas dan kadang di bawah. Dan seorang pria bernama Hepny yang akrab disapa Eef sudah merasakan hal itu.

Terpuruk Sempat Jadi Tukang Ojek, Eef Bangkit dan Usaha Jamurnya Diekspor Hingga ke Malaysia
Banjarmasinpost.co.id/Salmah
Hepny, merintis budidaya jamur diawali pada 2005.

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Hidup seperti roda pedati, kadang di atas dan kadang di bawah. Dan seorang pria bernama Hepny yang akrab disapa Eef sudah merasakan hal itu.

Ia pernah merasakan hidup nyaman dengan banyak harta, namun kemudian usahanya bangkrut dan hartanya pun ludes.

Tak ada usaha, ia pun sempat menjadi pengojek, setelah dua tahun mengandalkan pencaharian dari mengantar penumpang, baru ia mendapat pencerahan untuk merintis jalan sebagai petani jamur dan perlahan namun pasti perekonomiannya kembali membaik.

Memulai merintis budidaya jamur diawali Hepny, pada 2005 ada tawaran dari pihak Kelurahan Pemurus Luar, Banjarmasin Timur, untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur.

Bersama seorang warga mewakili kelurahan tersebut untuk menjalani pelatihan 3 hari. Dari situ termotivasi untuk merintis usaha jamur, apalagi saya berlatar pendidikan pertanian dan memang hobi bertani.

Baca: Live RCTI! Jadwal Siaran Langsung Timnas U-23 Indonesia di Kualifikasi Piala Asia 2020

Baca: Jadwal Pengumuman SNMPTN 2019 Dimajukan Pada 22 Maret, Simak Petunjuk Dari LTMPT

Baca: Gisella Anastasia dan Wijaya Saputra Berani Unggah Foto Bareng, Mantan Gading Marten Sebut Feni Rose

Melalui pinjaman tanpa agunan dari BRI sebesar Rp1 juta, saya beli baglog (media jamur) yang waktu itu sebanyak 300 lebih baglog. Tempat budidaya berupa lahan kecil milik keluarga yang saya sewa. Syukurlah, jamurnya tumbuh dengan baik.

"Jamurnya berkembang, walaupun sempat saat panen terkendala pemasaran, namun dengan strategi, akhirnya banyak yang bermint," jelasnya Eef yang dipercaya sebagai Ketua HIPJAKSEL (Himpunan Petani Jamur Kalsel).

Dua tahun kemudian, 2007, kumbung jamur bertambah jadi dua dengan kapasitas 5000 baglog dengan hasil panen 20-40 Kg per hari, harga jual waktu itu Rp20 ribu per kg.

"Saya sempat suplai jamur ke Makro (sekarang Lotte Mart) dengan kontrak harus suplai 20 kg sehari, kurang dari itu kena penalti per kg," ujar warga Jalan Pramuka Komplek Rahayu Pembina IV Banjarmasin

Bahkan dia pun punya karyawan, dari dua orang bertambah 4 orang. Lahan yang semula sewa kemudian bisa saya beli dan kini sekaligus menjadi tempat tinggal saya.

Halaman
12
Penulis: Salmah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved