Tajuk

Generasi ‘Kerdil’

Tak hanya beban negara, keberadaan penderita stunting juga akan menghambat pemenuhan sumber daya manusia berkualitas.

Generasi ‘Kerdil’
kiriman humpro kalsel
Pemerintah Provinsi Kalsel berhasil memecahkan rekor MURI dengan mengumpulkan 2053 ibu hamil untuk pencegahan stunting dalam edukasi sajian isi piringku di Setdaprov Kalsel, Banjarbaru, Kamis (18/10/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - GENDERANG memerangi stunting harus ditabuh lebih keras lagi, hingga suaranya terdengar ke pelosok-pelosok. Jika tidak republik ini akan banyak memiliki generasi yang tidak sehat. Stunting merupakan anak yang tumbuh kerdil, karena mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan juga otak.

Keberadaan penderita stunting ini tentu saja menjadi beban negara. Riset Bank Dunia menyebutkan, kerugian ekonomi akibat stunting bisa mencapai 3-11persen dari produk domestik bruto (PDB). Di Indonesia, Bappenas memprediksi kerugian akibat stunting mencapai Rp 300 triliun per tahun.

Kerugian itu terjadi lantaran pemerintah harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk memberikan jaminan kesehatan. Karena dampak lanjutan dari stunting ketika dewasanya mudah terkena serangan jantung, stroke, diabetes, gagal ginjal.

Tak hanya beban negara, keberadaan penderita stunting juga akan menghambat pemenuhan sumber daya manusia berkualitas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan batas maksimal penderita stunting suatu negara, yakni 20 persen. Saat ini Indonesia berada di atas batas maksimal tersebut. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikeda) 2018 menunjukan prevalensi mencapai 30,8 persen.

Sementara dalam catatan WHO, sebanyak 7,8 juta dari 23 juta balita Indonesia mengalami terjadinya stunting. Fakta itu sekaligus menempatkan Indonesia dalam lima besar negara dengan kasus stunting terbanyak di dunia.

Kalimantan Selatan, salah satu provinsi di Indonesia, ikut ‘menyumbang’ penderita stunting. Dari data Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) angka stunting di Kalsel 22,2 persen. Sedangkan dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di tahun 2018 tercatat sebesar 33 persen.

Berdasarkan data E-PPGBM dan Riskesdas itulah Dinas Kesehatan Kalsel menarget tahun 2019 penurunan stunting menjadi 20 persen. Taget ini harus kita dukung bersama.

Salah satu bentuk dukungan itu adalah kita harus menyisihkan sebagian uang kita untuk mengangkat derajat kaum miskin. Uang itu bisa kita serahkan kepada mereka lewat Badan Amil Zakat Nasional (Basnaz). Karena faktor yang menyebabkan munculnya stunting adalah kondisi ekonomi masyarakat.

Biasanya, warga yang berada digaris kemiskinan tidak memerhatikan kualitas gizi ibu saat hamil.

Di saat bersamaan pemerintah tetap melakukan intervensi gizi kepada bayi. Asupan gizi bagi bayi tidak cukup hanya air susu ibu (AS). Bayi yang baru dilahirkan perlu makanan tambahan yang mengandung protein hewani untuk mendorong pertumbuhan fisik, dan terutama perkembangan otak.

Sudah saatnya masalah stunting ini menjadi perhatian bersama masyarakat dan pemerintah. Dengan adanya kerja sama yang baik kita optimistis stunting akan berhasil diturunkan, bahkan ‘dikalahkan’. Cita-cita melahirkan generasi berkualitas menghadapi “Indonesia Emas” pada 2045 harus kita wujudkan. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved