Berita Tanahlaut

Ancaman Uni Eropa Soal Impor Sawit Tak Berdampak Kepada Petani Sawit Mandiri Tanahlaut

Dampak dari ancaman Uni Eropa yang akan berhenti menerima pasokan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia ternyata tak dirasakan oleh petani sawit.

Ancaman Uni Eropa Soal Impor Sawit Tak Berdampak Kepada Petani Sawit Mandiri Tanahlaut
banjarmasinpost.co.id/milna sari
Petani Sawit Mandiri Tanahlaut, Kaspudin di kebun sawit miliknya. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Dampak dari ancaman Uni Eropa yang akan berhenti menerima pasokan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia ternyata tak dirasakan oleh petani sawit mandiri Tanahlaut.

Salah satu petani sawit mandiri Desa Tambang Ulang Kecamatan Tambangulang Kabupaten Tanahlaut Kalimantan Selatan, Kaspudin mengatakan saat ini harga sawit justru naik dari sebelumnya Rp 600 menjadi Rp 925 per kilogramnya.

"Alhamdulillah sekarang sudah mulai naik, katanya harganya akan terus naik," sebutnya kepada Banjarmasinpost.co.id, Minggu (25/3/2019).

Bahkan buah sawit kini terangnya semakin baik penjualannya karena makin dicari oleh pengepul.

"Kita jualnya ke pengepul soalnya, pengepulnya juga masih terus mencari buahnya," sebutnya.

Baca: Mayat Bersujud di Takisung Bikin Geger Warga Tanahlaut, Diduga Ini Penyebabnya

Baca: Kapolda Irjen Yazid Fanani : Laporkan Jika Ada Penembak di Atas Kuda atau Calo Penerimaan Polri

Terkait ancaman Uni Eropa terang Kaspudin yang juga ketua RT 01 RW 01 Tambang Ulang ini memang benar dan sudah ia ketahui. Namun ia berharap pemerintah bisa memikirkan cara lain agar harga sawit tak lagi anjlok seperti di tahun lalu.

Petani sawit mandiri lain adalah Ari. warga Jorong Kecamatan Jorong Kabupaten Tanahlaut ini mengatakan harga sawit memang merangkak naik menjadi Rp 950 per kilogramnya.

"Kemarin bahkan sempat Rp 500 tapi ini sudah mulai bagus harganya," ujarnya.

Ia berharap kenaikan harga sawit ini bisa terus berlanjut demi kesejahteraan petani sawit. Terlebih petani sawit mandiri yang tak bekerja sama dengan perusahaan sawit dan biasanya menjual sawit kepada pengepul.

Sebelumnya pemerintah telah memperingatkan bahwa jutaan petani berisiko kehilangan mata pencaharian mereka jika Uni Eropa berhenti menggunakan komoditas  sawit dalam biofuel.

Usulan langkah Uni Eropa tersebut muncul setelah dorongan Parlemen Eropa untuk menghentikan penggunaan minyak kelapa sawit mulai tahun 2023, dan meningkat menjadi larangan pada tahun 2030, seiring kekhawatiran bahwa produksi minyak sawit menyebabkan deforestasi dan memperburuk perubahan iklim.

Baca: Syahrini Permalukan Sosok Ini pada Teman-temannya karena Tingkah Istri Reino Barack di Insta Story

Baca: VIDEO Live Streaming RCTI Timnas Indonesia vs Vietnam Pra Piala Asia U-23 2020, Link RCTI Metube

Efeknya, Indonesia dan Malaysia mengancam akan mengambil tindakan balasan perdagangan, termasuk memboikot produk Uni Eropa, jika larangan itu diterapkan.

Pemerintah pusat mulai menjalin hubungan dengan negara asia untuk penjualan CPO terutama ke India yang mau menampung minyak kelapa sawit Indonesia.

Di Kalsel dan Kalteng, memiliki 2 juta ha lebih lahan perkebunan kelapa sawit yang sangat terpukul dengan kampanye negatif tentang PBS Sawit tersebut. Adanya jalinan kerja sama penjualan dengan India dinilai mulai membangkitkan lagi gairah investasi perkebunan ini.
(Banjarmasinpost.co.id/Milna)

Penulis: Milna Sari
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved