Berita Tapin

Junaidi Oprimistis Wakili Kabupaten Tapin Jadi Pelopor Petani Horti Teladan

unaidi, petani cabai di Desa Hiyung, Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) optimistis bakal terpilih mewakili Tapin.

Junaidi Oprimistis Wakili Kabupaten Tapin Jadi Pelopor Petani Horti Teladan
banjarmasinpost.co.id/mukhtar wahid
Junaidi, Petani Cabai Kabupaten Tapin 

BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Junaidi, petani cabai di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) optimistis bakal terpilih mewakili Kabupaten Tapin.

Junaidi mengaku dari petani hortikultura hanya Kecamatan Tapin Tengah yang lengkap untuk menyampaikan presentasi dihadapan tim juri lomba pertanian hortikultura.

Lomba pertanian hortikultura dilaksanakan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tapin dalam waktu dekat ini untuk mencari wakil Kabupaten Tapin berlomba di tingkat Provinsi Kalsel.

Junaidi mengaku dua kali ikut lomba pertanian hortikultura, tahun 2018 itu berada di urutan kedua. Itu karena kalah dalam jumlah kegiatan sebagai narasumber pertanian.

"Saya kalah dengan pak Karlis, petani bawang asal Kecamatan Bungur tahun lalu. Tahun ini pak Karlis tidak diikutkan lagi karena pernah menang lomba," kata kepada reporter Banjarmasinpost.co.id, Minggu (24/3/2019).

Baca: Kapolda Irjen Yazid Fanani : Laporkan Jika Ada Penembak di Atas Kuda atau Calo Penerimaan Polri

Baca: Bayi Naura yang Dilahirkan di Rutan Marabahan Batola Itu Diasuh Petugas dan Teman Satu Sel

Junaidi mengaku sudah punya pengalaman sebagai narasumber di Kota Banjarbaru dua kali, di Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Tanahlaut masing-masing satu kali untuk memaparkan potensi tanaman cabai rawit Hiyung.

"Kalau penghargaan sudah tak terhitung jumlahnya. Kalau sebagai narasumber baru di tiga daerah dalam wilayab Provinsi Kalsel," katanya.

Kini Junaidi mengaku menanam sebanyak 3.000 bibit cabai rawit Hiyung di lahan miliknya. Dua ribu bibit pohon menyusul karena masih dalam pengolahan lahan.

"Menanam cabai ini meski harganya sempat jatuh Rp 5.000 per kilogram, Petani tidak mengalami kerugian. Buah lombok yang busuk masih dapat diolah dan menghasilkan uang," katanya. (banjarmasinpost.co.id/ mukhtar wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved