Tajuk

Waspadai Jebakan Tikus Golan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membuat keputusan mengejutkan pada Kamis (21/3) beberapa hari lalu.

Waspadai Jebakan Tikus Golan
Reuters
Donald Trump 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump membuat keputusan mengejutkan pada Kamis (21/3) beberapa hari lalu. Pemerintah Paman Sam secara resmi mengakui klaim Israel atas kawasan dataran Golan. Dunia pun merespon, dan secara lantang ‘menentang’ pengakuan yang tanpa dasar itu.

Termasuk di antaranya, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) secara tegas menyatakan, dataran tinggi Golan adalah wilayah Suriah. Sikap ini mengacu pada Resolusi Dewan Keamanan PBB pada 1981 yang hingga hari ini belum pernah dibatalkan.

Dalam resolusi PBB yang keluar akibat klaim Israel secara hukum pada wilayah itu, Dewan Keamanan menyebut pencaplokan Dataran Tinggi Golan Israel batal demi hukum dan tanpa efek hukum internasional. Sebagaimana diketahui, resolusi itu muncul setelah sebelumnya Israel (pada tahun yang sama) telah mengklaim secara hukum atas wilayah tersebut.

Ya, Golan memang selalu menarik untuk perebutan. Setelah damai dalam pelukan wilayah Suriah, perang enam hari pada 1967 telah menjadikan wilayah ini direbut Israel. Pada 1973, Golan kembali ‘pulang’ dalam beberapa waktu di fase awal perang Yom Kippur, untuk kemudian berhasil direbut kembali Israel.

Tentu, perebutan itu bukanlah demi minyak, gas atau sumber daya alam lain sebagaimana sejumlah konflik wilayah di banyak tempat. Perebutan Golan adalah upaya merebut ‘menara pandang’, karena secara topografi cukup baik dan lokasinya yang strategis karena berada di persimpangan empat negara; Israel, Lebanon, Yordania dan Suriah.

‘Gardu Pandang’ bernama Golan ini dikhawatirkan akan menjadi mata bagi cara baru ‘penguasaan’ atas negara-negara di Timur Tengah. Setelah era ‘penumbangan rezim’ ala Libya dan Mesir tak lagi efektif dipraktikkan. Setidaknya, ketidakefektifan itu ditandai ‘gagalnya’ pemunduran presiden Suriah.

Atau, bila sikap Amerika terhadap hak atas Golan ini bukan karena posisi strategisnya, bisa jadi merupakan ‘perangkap tikus’ agar negara-negara di kawasan Timur Tengah tetap terbelah dan tetap berperang. Bahkan, bisa menyeret negara-negara Islam di belahan dunia lain. Maklum, mainan bernama ISIS semakin padam, setelah pada beberapa hari lalu para anggotanya ‘ditumpas kelor.’

Apapun skenario di balik pengakuan Amerika ini, atau apapun langkah bidak, kuda, peluncur, banteng, menteri dan raja selanjutnya setelah Israel mendapat legitimasi AS untuk menguasai Golan, kita perlu waspada untuk tidak terseret pada permainan yang sedang dirancang. Apalagi masuk jebakan tikus atas isu status dataran tinggi Golan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved