Tajuk

Lenyapkan Jamban Apung

Bupati A Chairansyah berharap, jamban apung di sungai tersebut dapat hilang pada 2019.

Lenyapkan Jamban Apung
banjarmasinpost.co.id/hari widodo
Bupati Banjar H Khalillurahman saat ikut pembongkaran jamban apung di Sungai Martapura, Martapura Kabupaten Banjar 

BANJARMASINPOST.CO.ID -  JAMBAN apung, tempat pembuangan kotoran yang dibuat warga di atas air aliran sungai Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST), mendapat perhatian serius bupatinya. Seperti dirilis BPost, Senin (1/4/2019) Jamban Apung Harus Lenyap (Bupati HST Targetkan Tahun Ini Terealisasi).

Bupati A Chairansyah berharap, jamban apung di sungai tersebut dapat hilang pada 2019. Jika lantingnya masih ingin dipertahankan tak masalah, tapi jamban apungnya yang dihilangkan, katanya pada suatu kesempatan.

Apa benar, banyak masyarakat yang menggunakan jamban atau water closed (WC) apung di atas aliran air sungai? Jika masih, inilah kebiasaan warga yang bermukim di bantarana sungai sejak dahulu, sehingga perlu bertahap untuk mengubah pola dan kebiasaan tersebut.

Warga di HST, Kalimantan Selatan, masih tidak sedikit menggunakan jamban terapung, sebagai sarana buang air besar dan air kecil. Terhadap pemandangan demikian, sang bupati berharap, tahun ini juga semua jamban apung di sungai Barabai sudah lenyap.

Baca: Polisi Bongkar Gudang Beras Oplosan di Sampit, Ratusan Kilogram Beras Oplosan Disita

Baca: Ini Sederet Nama Caleg Muda Ikuti Pemilu 2019 di Kalsel

Baca: Wakil Indonesia Lakoni Laga Perang Saudara di Awal Babak pada Malaysia Open 2019

Baca: Lia Ladysta Nyesel Ngomong Soal Syahrini, Katanya Hanyalah Keceplosan Belaka

Sesungguhnya perilaku hidup bersih dan sehat, sangat perlu bagi masyarakat di sekitar bantaran sungai. Perubahan perilaku seperti buang air besar di jamban atau WC apung, perlu segera dihilangkan dan perlu suatu gerakan.

Demikian pula pola hidup bersih dan sehat di rumah tangga, perlu diberdayakan agar anggota rumah tangga tahu, mau, mampu mempraktikkan dan berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat, khususnya pada air dan makanan yang dikonsumsi.

Bukankah kebiasaan buang air besar di sungai atau lebih dikenal mandi cuci kakus (MCK) di atas aliran sungai, rawan menjadi penyebab penyakit diare, muntah berak (muntaber) dan wabah penyakit menular lainnya.

Jika seperti itu ancamannya, tidak ada kata lain kecuali dimulai program tersebut, yaitu melakukan pembenahan membuat WC individual di dalam rumah atau di samping rumah warga, yang bermukim di bantaran sungai.

Bagi sebagian warga yang bermukim di bantaran sungai, jamban apung tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Sebab, mereka masih memanfaatkan air sungai untuk mandi dan mencuci.

Apakah warga bereaksi atau menyambut baik penghapusan jamban apung? Apalagi, harus membangun WC individual di dalam rumah atau di samping rumah?

Jika diharuskan, perlu dilakukan secara bertahap. Juga sosialisasi dan edukasi kepada warga, diperlukan secara berjenjang dan tentu beragam media yang diperlukan oleh pemerintah kabupaten.

Harapannya, masyarakat yang ada di bantaran sungai dan berbagai aliran anak sungai lainnya di HTS, mulai beralih menggunakan WC yang dibangun di rumah masing-masing, secara bertahap memusnahkan jamban di sepanjang sungai tersebut.

Bukankah perubahan pola hidup bersih dan sehat harus dimulai dari lingkungan keluarga, sehingga tidak ada lagi anggota keluarga yang membuang air besar di sembarang tempat, termasuk di jamban apung di atas air aliran sungai. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved