Opini

Meratus dan Surat untuk Presiden

Dalam huruf braille, Nurhayati, seorang disabilitas (tunanetra) menuliskan pesan dan perasaannya tentang Pegunungan Meratus kepada Presiden.

Meratus dan Surat untuk Presiden
Humas Pemprov Kalsel
Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor dan pejabatlainnya dalam acara pendeklarasian Pegunungan Meratus menjadi Taman Bumi (Geopark) Nasional di Kiram Park, Kabupaten Banjar, Minggu (24/2/2019). Tampil dalam acara tersebut penyenyi ibu kota Slank dan Inka Christie. 

Oleh: RIZQI HIDAYAT
Manajer Kampanye, Data, dan Program Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Dengan ini kami masyarakat kecil/disabilitas perlu perhatian Bapak Presiden dan Calon Presiden, untuk tidak lagi memberikan kesempatan para penambang dan penebang hutan yang membuat kami menderita, terutama hutan Meratus yang ada di Hulu Sungai Tengah.

Janganlah kami yang sudah menderita ditambah lagi menderita dengan kekurangan udara, air bersih, akibat diijinkannya pembukaan tambang batubara dan penebangan hutan.

Kepada siapapun yang terpilih menjadi Presiden supaya bertindak nyata dan langsung dapat kami rasakan sebagai rakyat kecil. Kami rakyat kecil hanya ingin merasakan udara sejuk, lingkungan yang aman, damai, serta sejahtera. Dan anak-anak kami dapat bersekolah. Jika udara sejuk dan air bersih masih dapat kami nikmati, kami rakyat kecil bahagia dan bersyukur.”

Dalam huruf braille, Nurhayati, seorang disabilitas (tunanetra) menuliskan pesan dan perasaannya tentang Pegunungan Meratus kepada Presiden.

Baca: Ini Sederet Nama Caleg Muda Ikuti Pemilu 2019 di Kalsel

Baca: Polisi Bongkar Gudang Beras Oplosan di Sampit, Ratusan Kilogram Beras Oplosan Disita

Baca: Hasil Akhir Arsenal vs Newcastle United 2-0, MU Tergeser Dari Zona Liga Champions

Baca: Lia Ladysta Nyesel Ngomong Soal Syahrini, Katanya Hanyalah Keceplosan Belaka

Bagi Nurhayati, walau matanya tak bisa melihat Meratus secara langsung, ia bisa merasakan langsung manfaat Meratus, dari air yang ia minum, udara yang ia hirup, dan semilir angin yang memberaikan hijabnya.

Nurhayati adalah satu dari ribuan orang dari dan luar Kalsel (termasuk di Malaysia dan Taiwan) yang pada Minggu (17/3) menulis surat secara serentak kepada Presiden.

Surat-surat yang dikirimkan itu hampir seluruhnya meminta Presiden ikut menyelamatkan Pegunungan Meratus, termasuk Meratus di bagian Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang kini terancam pertambangan batu bara menyusul SK Kementerian ESDM di Jakarta yang pada tanggal 4 Desember 2017 mengeluarkan SK bernomor 441.K/30/DJB/2017 tentang penyesuaian tahap kegiatan PKP2B menjadi tahap operasi produksi (menambang batu bara) kepada PT Mantimin Coal Mining (MCM).

Izin itu meliputi 3 wilayah (Tabalong, Balangan, dan Hulu Sungai Tengah).
Fenomena menjadikan surat sebagai medium untuk memanggil, meminta, dan melibatkan Presiden secara langsung dalam gerakan penyelamatan Meratus dari pertambangan batu bara dan perkebunan sawit menjadi menarik.

Pertama, ini merupakan peristiwa pertama yang terjadi di Kalsel, bahkan di Indonesia. Jika selama ini banyak pihak yang lebih “bernafsu” memecahkan rekor (MURI misalnya) untuk kegiatan yang kadang susah mencari makna dan manfaatnya --selain untuk mencari perhatian dalam perspefktif kepariwisataan--, maka gerakan menulis surat serentak kepada Presiden justru lebih dititikberatkan pada efektivitas dan substansi kegiatan. Bukan pada “bungkusan” dan nafsu-nafsuan memecahkan “rekor-rekoran”.

Halaman
123
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved