Berita HSS

Salimi, Anak Yatim Peserta UNBK SMAN 3 Kandangan dari Loksado Nyaris Putus Sekolah, Guru Urunan

Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, beberapa bulan lalu, tak ada lagi yang membiayai keperluan sekolah dan kebutuhan hidupnya.‎

Salimi, Anak Yatim Peserta UNBK SMAN 3 Kandangan dari Loksado Nyaris Putus Sekolah, Guru Urunan
banjarmasinpost.co.id/hanani
Salimi (18) Siswa kelas XII SMAN 3 Kandangan, asal Desa Loklahung, sebuah desa terpencil di Loksado Kabupaten HSS. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Ada kisah pilu dibalik peserta UNBK di SMAN 3 Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Salah satu siswa peserta ujian, Salimi (18), warga Manutui Desa Loklahung, Kecamatan Loksado,nyaris mengalami putus sekolah.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, beberapa bulan lalu, tak ada lagi yang membiayai keperluan sekolah dan kebutuhan hidupnya.‎

Awalnya, Salimi yang mengaku anak bungsu dari tujuh bersaudara itu, semasa masih memiliki orang tua, dia bisa bolak balik naik sepeda motor ke sekolah dari desanya ke Kandangan. Merasa tak punya biaya transport maupun uang buat makan dan kebutuhan sekolah, diapun bilang ke gurunya ingin berhenti sekolah. Padahal, ujian nasional sekitar beberapa bulan lagi.

"Bukannya saya tak ingin menamatkan SMA ini. Tapi saya benar-benar bingung, bagaimana membiayai hidup saya sendiri. Kakaka-kakak sudah berkeluarga dan semua tinggal di luar desa.Akhirnya dengan berat hati, bilang mau berhenti,"katanya kepadaBanjarmasinpost.co.id, di sela menunggu sesi kedua giliran mengikuti UN matematika, Selasa (2/4/2019).

Baca: Bangun Kesiangan, Misrun Peserta UNBK dari SMAN 3 Kandangan Ini Dijemput Wali Kelasnya ke Kost

Namun, beruntung, Salimi mendapat simpati dari para gurunya. Dia tak diizinkan berhenti sekolah, dan para guru pun bersedia urunan membiayai kebutuhan sekolah, mencarikan tempat kost dan memberikan biaya hidup bulanan.

"Bulanannya antara Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan,"tuturnya. Untuk makan sehari-hari, Salimi mengaku kadang memasak sendiri jika ada waktu luang, kadang membeli di warung makanan yang harganya terjangkau. Dia sendiri berupaya mencari biaya hidup tambahan.

Pulang ke kampungnya, di Loklahung seminggu sekali, kadang dua minggu satu kali, Salimi bekerja memetik kemiri, pohon peninggalan orangtuanya untuk dijual. Di kampungnya, Salimi tinggal di rumah dinas seorang satu guru SD asal pulau Jawa yang bertugas di sana karena rumah orangtuanya ditinggali kakakknya sekeluarga.

Guru tersebut tinggal sendiri karena anak istrinya tinggal di pulau Jawa.Kadang, jika libur panjang, Salimi pulang ke kampung ibunya, di Paramasan, Kabuoaten Banjar karena di sana masih ada saudara ibunya.

"Karena semua kakak sudah berkeluarga, saya tidak enak ikut kakak,karena mereka juga hidup pas-pasan dari bertani," bebernya.

Baca: Sebanyak 237 Siswa SMAN 1 Anjir Pasar Ikuti UNBK Hari Kedua, Begini Kondisinya

Salimi mengatakan, sebenarnya, dia bercita-cita ingin kuliah PGSD, karena ingin menjadi guru di kampung halamannya. Namun, rasa pesimistis muncul mengingat dia tak punya siapa-siapa lagi yang diharapkan untuk membantu menggapai cita-citanya tersebut. "

Halaman
12
Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved