Opini Publik

Isra Mikraj Momentum Persatuan Bangsa

Pada bulan Rajab tahun ini, terjadi sebuah peristiwa besar yang selalu diperingat dan dikenang oleh umat Islam di seluruh dunia.

Isra Mikraj Momentum Persatuan Bangsa
Tribun Timur
Isra Miraj 2019 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pada bulan Rajab tahun ini, terjadi sebuah peristiwa besar yang selalu diperingat dan dikenang oleh umat Islam di seluruh dunia. Peristiwa itu adalah Isra Mikraj yang dilakukan Rasulullah SAW ketika Beliau berada di Makkah. Isra Mikraj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah.

Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mikraj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mikrajterjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang popular dirayakan dan diperingati setiap tahunnya oleh umat Islam, khususnya di Indonesia.

Peristiwa Isra Mikraj itu dimulai ketika Rasulullah SAW mengalami suatu gangguan yang luar biasa dari kafir Quraisy pada waktu. Kemudian, ditambah lagi dengan meninggalnya dua orang yang sangat di cintai beliau. Orang yang menjaga dan mendukung dakwahnya. Dua orang itu adalah paman beliau, Abu Thalib, dan isterinya, yakni Siti Khadijah.

Dengan meninggalnya dua orang yang sangat di cintainya itu, maka Rasulullah SAW mengalami kesedihan yang luar biasa. Sehingga peristiwa itu dinamakan sebagai ‘amul hazn (Tahun duka cita). Untuk ‘menghibur’ Rasulullah SAW, maka Allah SWT mengisramikrajkan mulai Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha yang berada di Palestina. Kemudian dilanjutkan naik ke atas langit pertama sampai ke tujuh.
Bahkan lebih tinggi lagi, yakni menembus Sidratul Muntaha, ‘bertemu’ dengan Allah SWT dan menerima perintah salat lima waktu. Selain itu, perjalanan Rasulullah SAW dalam Isra Mikraj itu juga ingin menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT kepada hambanya (Lihat Qs.17:1). Allah SWT ingin menunjukkan “kehebatan-Nya” yang telah menjalankan manusia paling mulia di muka bumi ini melintasi alam semesta yang sangat luas dan tak bertepi ini hanya dengan waktu kurang dari semalam.

Dalam peristiwa Isra Mikraj itu, awalnya Allah SWT menjalankan Nabi-Nya dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Dan ketika mikraj, saat Rasulullah SAW berada di Sidratul Muntaha, Beliau mendapatkan perintah salat lima waktu yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan yang sudah memenuhi syarat.

Kalau kita cermati dari peristiwa isra itu, Rasulullah SAW memulai perjalanannya dari masjid dan berakhir di masjid juga. Dan peristiwa mikraj, ketika Beliau langsung ‘bertemu’ dengan Allah SWT untuk mendapatkan perintah salat.

Dua hal Ini merupakan suatu pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam. Sebab, masjid merupakan tempat ibadah bagi umat Islam. Di masjid itu juga dikerjakan salat lima waktu secara berjemaah. Masjid merupakan simbol persatuan dan kesatuan bagi seluruh umat Islam dimanapun mereka berada. Ketika seseorang memasuki masjid untuk melaksanakan salat berjemaah, maka dia harus melepaskan segala atribut keduniawiannya. Saat beribadah di masjid tidak ada kelas dan jabatan. Di sana tidak ada yang istemewa. Semuanya sama, tidak ada perbedaan. Semuanya memiliki niat ingin melaksanakan ibadah menghadap Sang Khalik dengan khusyuk.

Masjid dan Salat
Pemersatu Umat
Ketika melaksanakan salat berjemaah (baik Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya), semuanya berdiri berjajar, rata, rapat dan lurus. Semuanya mengikuti komando dari imam salat. Tidak ada yang boleh mendahului atau memperlambat gerakan salat dari pada imam. Takbir (Allahu Akbar) merupakan aba-aba dari imam. Ketika takbir sudah terdengar, maka seluruh jamaah harus mengikutinya.

Semuanya harus serasi dan sesuai dengan aba-aba dari imam itu. Di dalam salat juga tidak ada tempat khusus bagi seseorang. Ketika dia terlambat datang ke masjid, maka posisinya bisa saja berada dipaling belakang barisan (Shaff). Walaupun dia seorang raja atau pejabat tinggi negara, maupun seorang jenderal atau apapun jabatan duniawinya. Ketika terlambat, tetap harus berada di belakang barisan. Begitu pula sebaliknya, ketika dia cepat datang ke masjid, maka dia akan berada di barisan depan, bahkan bisa berdiri di belakang imam walaupun dia hanya orang (rakyat) biasa. Begitulah, pelajaran seseorang ketika berada di masjid ketika salat berjemaah.

Masjid dan salat merupakan alat pemersatu umat Islam. Di masjid tidak ada perbedaan antara pejabat dan bukan pejabat. Tidak ada yang kaya dan miskin. Tua maupun muda. Laki-laki dan perempuan. Selain itu, di masjid juga tidak ada permusuhan, pertikaian, dan pertengkaran. Di masjid juga tidak boleh membicarakan kejelekan orang lain. Di masjid juga tidak boleh menyebarkan berita bohong (hoak). Masjid bukan milik perorangan maupun golongan. Masjid juga bukan tempat untuk berpolitik. Semua umat Islam boleh menggunakannya. Masjid hanya digunakan untuk menjalankan ibadah, baik wajib maupun sunnah. Semua kalangan bisa datang ke masjid untuk menunaikan salat berjemaah. Segala perbedaan pendapat dan perbedaan pilihan politik tidak akan menghalangi seseorang menuju masjid. Bahkan, mereka bisa saling bergandengan dan berjabat tangan ketika bertemu di dalam masjid.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved