Berita HSS

Perajin Perak di Desa Habirau Daha Selatan HSS, Tetap Eksis di Tengah Gempuran Produk Buatan Mesin

Dari sejumlah warga setempat, hampir semua warga di kampung tersebut memiliki usaha membuat perhiasan perak, tembaga serta emas.

Perajin Perak di Desa Habirau Daha Selatan HSS, Tetap Eksis di Tengah Gempuran Produk Buatan Mesin
banjarmasinpost.co.id/hanani
Perajin Perak dan Tembaga di Desa Habirau, Daha Selatan, Hulu Sungai Selatan, sedang membuat perhiasan gelang, Rabu (3/4/2019) di rumahnya, yang sekaligus jadi tempat memproduksi perhiasan perak 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Pernah ke toko perhiasan perak dan membeli aksesoris berbahan tersebut? Ternyata sebagian perhiasan perak di yang dijual di toko-toko di Kalsel hingga Kalteng produksi perajin dari Desa Habirau, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Informasi yang diperoleh dari sejumlah warga setempat, hampir semua warga di kampung tersebut memiliki usaha membuat perhiasan perak, tembaga serta emas.

"Warga disini menjadi perajin perhiasan sudah turun temurun. Keahlian mengolah perak, tembaga dan emas serta membuat desainnya sudah sejak kecil diajari orangtua,"kata Rudi Imransyah, warga Habirau kepadabanjarmasinpost.co.id, Rabu (3/4/2019).

Rudi mengaku salah satu yang memasarkan produk-produk para perajin dari Habirau ke Kandangan, Tanah Bumbu, Kota Baru, Palangka Raya, dan Sampit, Kalimantan Tengah.Seminggu sekali, dia daerah-daerah tersebut, memasok ke mitra-mitra usahanya di toko-toko di pasar.

Baca: Tunjang Gaya Hidup Milenial, Asuransi Umum di Banjarmasin Bakal Luncurkan Aplikasi Digital

Selain di Desa Habirau, perajin emas perak dan tembaga lainnya ada di Desa Parigi, yang berbatasan dengan Desa Habirau. Tiap hari, warga bekerja membuat perhiasan dari tiga bahan tersebut sebagai pekerjaan utama selain bertani padi di lahan rawa dan menangkap ikan.

Adapun kerajinan perhiasan di desa tersebut, masih dibuat dengan peralatan manual, yaitu alat patri atau bubutan. Produk perhiasan yang dibuat, antara lain gelang tangan, cincin, anting, gelang kaki, serta kalung.

Supian dan Adit, adalah perajin perak dan tembaga. Dua remaja ini mengaku hanya lulus SD, dan memutuskan tak melanjutkan sekolah, karena lebih tertarik mencari uang dengan membuat perhiasan.

Perajin Perak dan Tembaga di Desa Habirau, Daha Selatan, Kabupaten HSS, sedang membuat perhiasan gelang, Rabu (3/4/2019) di rumahnya, yang sekaligus jadi tempat memproduksi perhiasan perak
Perajin Perak dan Tembaga di Desa Habirau, Daha Selatan, Kabupaten HSS, sedang membuat perhiasan gelang, Rabu (3/4/2019) di rumahnya, yang sekaligus jadi tempat memproduksi perhiasan perak (banjarmasinpost.co.id/hanani)

"Telanjur enak mendapatkan penghasilan sendiri. Jadinya tak sempat sekolah,"kata Supian beralasan. Dijelaskan, untuk bahan perak maupun tembaga, dibeli di toko di Banjarmasin. Sebagian membeli bahan perak bekas yang didaur ulang dengan cara dimurnikan menggunakan air keras.

Baca: Sempat Dievakuasi ke Polsek Amuntai Utara, Uwa-uwa Temuan saat Gerebek Sabu Diserahkan ke BKSDA

Sedangkan model atau desain perhiasan, sering melihat dari perhiasan emas. "Tren desain perhiasan emas bagaimana yang disenangi masyarakat, khususnya perempuan, itu yang kami buat. Tapi bisa juga ide desainnya dari kami sendiri,seperti desain cincin," tambah Adit.

Model gelang yang sedang ngetren saat ini, selain rantai dengan hiasan lonceng, juga desain lambang seperti Loius Vouiton dan chanel. Adapun harga per gram perhiasan perak Rp 15 ribu per gram, dan bisa tukar tambah jika bosan dengan model lama. Atau jika ingin dijual kembali, juga bisa langsung ke perajin bersangkutan tempat membeli.

Produk perhiasan perak yang sudah dikemas dan siap diantar ke toko-toko di luar daerah, yang meliputi Kalsel dan Kalteng.
Produk perhiasan perak yang sudah dikemas dan siap diantar ke toko-toko di luar daerah, yang meliputi Kalsel dan Kalteng. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Diakui, saat ini perajin dari Desa Habirau, bersaing dengan produk perhiasan dari pulau jawa, dengan keunggulan lebih mengkilap, serta desain lebih bervariasi karena buatan pabrik. Meski demikian, dari sisi kualitas bahan perak, masih unggul produk lokal.

"Kami menggunakan bahan perak murni 99, walaupun diolah dengan peralatan manual, dari segi kualitas lebih kuat dan tak gampang putus atau lepas jika diberi detil bahan mata batu. Kalau buatan pabrik gampang putus, ikatan biji hiasannya juga mudah copot,"kata Rudi Imransyah, sebagai mitra perajin yang sejak 2006 memasarkan produk perajin di desanya itu ke toko-toko.

Baca: Beda Via Vallen dan Ayu Ting Ting Soal Tipe Pria Idamannya, Tak Mau Pria dari Kalangan Ini?

Menurutnya dengan keunggulan buatan manual tersebut, terbukti perhiasan dari kecamatan di Daha yang sering di sebut Nagara tersebut tetap mendapat tempat di hati pembeli. Sekalipun jika sudah masuk toko, pemilik toko menjualnya dengan harga lebih mahal, yaitu Rp 17 ribu sampai Rp 25 ribu per gram untuk perak 99 murni.

Sampai sekarang, kata Rudi usaha kerajinan perhiasan perak, tembaga, hingga emas di Habirau, masih eksis memasok ke luar daerah. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved