Tajuk

Sukseskan Serasi

INDONESIA masih belum bisa keluar dari negara pengimpor beras. Data Kementerian Perdagangan impor beras

Sukseskan Serasi
banjarmasinpost.co.id/acm
Stok beras di salah satu toko beras di Banjarmasin 

BANJARMASINPOST.CO.ID - INDONESIA masih belum bisa keluar dari negara pengimpor beras. Data Kementerian Perdagangan impor beras yang dilakukan pemerintah pada tahun 1993-1998 rata-rata 1,3 juta ton per tahun, 1999 -2004 rata-rata 1,7 juta ton per tahun, 2004 - 2009 rata-rata 468 ribu ton per tahun, 2009 - 2014 rata-rata 1,1 juta ton per tahun, 2014 - 2018 rata-rata 1,08 juta ton per tahun.

Kebijakan impor beras ini diambil untuk mengatasi lonjakan harga beras dan menambah pasokan yang sedang menurun.

Selain itu untuk mengimbangi ketergantungan masyarakat pada beras (sebagai sumber pangan) yang masih sangat tinggi.

Artinya pemerintah mendorong masyarakat untuk tidak tergantung pada beras. Sebenarnya ada beberapa jenis makanan yang bisa menggantikan peran nasi, seperti jagung, umbi-umbian, dan sagu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangan pokok penduduk yang bertumpu pada satu sumber karbohidrat yaitu beras akan melemahkan ketahanan pangan sekaligus menimbulkan kesulitan dalam pengadaannya. Dalam 10-15 tahun mendatang Indonesia diperkirakan akan mengalami kerawanan pangan jika konsumsi masyarakat hanya bergantung pada beras.

Selain mengurangi ketergantungan pada beras, pemerintah juga harus terus meluncurkan program-program yang bertujuan untuk ketahanan pangan. Program yang terbaru adalah Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi). Program ini menjadikan ratusan ribu hektare lahan rawa dan pasang surut yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera menjadi lahan produktif.

Kalimantan Selatan ikut ambil bagian dari program Serasi. Di Kalsel, program Serasi ada di beberapa daerah, yakni di Kabupaten Baritokuala (Batola) seluas 100 ribu Ha, Kabupaten Banjar 135 ribu Ha, Tanahlaut 30 ribu Ha, Hulu Sungai Selatan (HSS) 30 ribu Ha dan Hulu Sungai Utara (HSU) 20 ribu Ha.

Program dari pemerintah pusat ini tidak akan berhasil tanpa dukungan dari penuh pemerintah daerah Batola, Tala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, dan Kabupaten Banjar. Bahkan peran langsung pemerintah daerah sangat menentukan, terutama dalam memberikan dukungan fasilitas pertanian, seperti tersedianya irigasi yang baik dan inprastruktur lain yang memadai.

Saat ini Kalsel adalah salah satu lumbung pertanian terbesar di luar pulau Jawa, selain Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. Produksi padi di daerah ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yaitu 2,14 juta ton pada tahun 2015 menjadi 2,313 juta ton pada tahun 2016 kemudian meningkat lagi menjadi 2,452 juta ton pada tahun 2017.

Kalimantan Selatan juga menjadi salah satu daerah yang mengalami peningkatan luas lahan pertanian, di tengah trend menyusutnya luas lahan pertanian khususnya di pulau Jawa. Luas lahan pertanian di Kalimantan Selatan tercatat 507 ribu hektare pada tahun 2014, pada tahun 2017 meningkat menjadi 587 ribu hektare.

Prestasi ini tentu saja harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Dengan ikut dalam program Serasi ini peluang Kalsel untuk meningkatkan produksi padi semakin terbuka lebar, dan Kalsel tetap menjadi provinsi menunjang ketahanan pangan nasional. Ayo sukseskan Serasi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved