Berita Banjarbaru

Ingin Ketahui Penyerapan Carbon, Mahasiswa Ilmu Kelautan Lakukan Penelitian Hutan Mangrove

Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Ilmu Kelautan ULM melakukan penelitian peranan hutan sebagai penyerapan karbon (C).

Ingin Ketahui Penyerapan Carbon, Mahasiswa Ilmu Kelautan Lakukan Penelitian Hutan Mangrove
istimewa/zainudin akbar
Mahasiswa Prodi Kelautan ULM, Zainudin Akbar saat melakukan penelitian di hutan mangrove. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat melakukan penelitian peranan hutan sebagai penyerapan karbon (C).

Para mahasiswa ini melakukan penelitian di Kawasan Ekowisata Mangrove Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut didampingi Tim dosen pembimbing, Muhammad Syahdan dan Nursalam.

Mereka melakukan penelitian terkait pendugaan Stok Karbon Biru (Blue carbon) pada Jenis Avicennia Marina di Kawasan Ekowisata Mangrove Desa Pagatan Besar.

Baca: LIVE Indosiar! Link Live Streaming Kalteng Putra vs Arema FC Piala Presiden 2019, Cek Link Vidio.com

Baca: Mulai 1 Mei Semua Mobil Angkutan di Kalsel Wajib Pasang Alat Pemantul Cahaya

Baca: Mapala Sylva Fahutan ULM Gelar Donor Darah, Rangkaian Kegiatan Lustrum ke-35

Baca: Jelang Debat Kelima Pilpres 2019 Capres Jokowi vs Prabowo, Ini 5 Fakta Kampanye Capres & Cawapres

"Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kawasan ekowisata tersebut dapat menyerap karbon," kata Zainudin Akbar, Jumat, (5/4).

Mahasiswa akhir dari Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Lambung Mangkurat ini menuturkan bahwa setelah diteliti kawasan tersebut relatif tinggi dalam hal menyerap karbon.

"Semakin banyak ekosistem mangrove semakin makin bagus karena untuk meredam pemanasan global," lanjutnya.

Menurutnya saat ini bumi dihadapkan dengan persoalan efek rumah kaca yang berupa kecenderungan peningkatan suhu udara atau biasa disebut dengan pemanasan global.

Peranan hutan sebagai penyerapan karbon (C) mulai menjadi sorotan. Namun pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk (C) dan melepasnya kembali ke atmosfer sebagai CO2.

Berbeda dengan ekosistem mangrove yang justru mengandung sejumlah besar bahan organic yang tidak membusuk.
Ekosistem mangrove lebih memiliki fungsi yang sangat besar sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan ekosistem yang berada di hutan hujas tropis.

Baca: 3 Hal Istimewa Irish Bella yang Akan Dinikahi Ammar Zoni, Ada yang Berkaitan dengan Giorgino Abraham

Baca: Sosok Wanita Idaman Ariel NOAH Terungkap, Persis Luna Maya, Pevita Pearce Atau Sophia Latjuba?

"Hasil penelitian di Kawasan Ekowisata mangrove Desa Pagatan Besar mampu menyerap karbon sebesar 381,68 ton/ha Jika dalam 1 ha kawasan ekowisata mangrove Desa Pagatan besar mampu menyimpan karbon sebesar 381,685 ton, maka dengan luas 10 ha kawasan ekowisata Desa Pagatan Besar mampu menyimpan karbon ± 3.816,850 ton," jelasnya.

Penelitian itu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar peranan Ekosistem mangrove mampu menyerap karbon dioksida yang berada diatmosfer sehingga hal tersebut dapat menunjang kegiatan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. (banjarmasinpost.co.id/aprianto)

Penulis: Aprianto
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved