Opini Publik

Penanganan Khusus untuk Siswa Berkebutuhan Khusus

Pola pikir pendidikan inklusif di jepang dibagi dua. Pertama pendidikan pembelajaran bersama dan kedua pendidikan secara pibadi sesuai kebutuhan.

Penanganan Khusus untuk Siswa Berkebutuhan Khusus
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Siswa berkebutuhan khusus mengerjakan soal ujian seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) 2012 di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Jakarta Timur, Selasa (12/6/2012). Tahun ini pemerintah menambah kuota 10 persen penerimaan mahasiswa menjadi 164.697 mahasiswa. 

Muhammad Syamsuri MPd
Guru SMAN 2 Kintap
Peserta Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ke Luar Negeri Tahun 2019

(Refleksi Hari Kesadaran Autisme Sedunia, Belajar Pendidikan Inklusif dari Jepang)

BANJARMASINPOST.CO.ID - World Autism Awareness Day (hari kesadaran autisme sedunia) yang diperingtai setiap tanggal 2 April menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk merefleksi diri apakah telah memenuhi hak-hak siswa difabel termasuk di dalamnya siswa autis dalam memperoleh pendidikan sesuai dengan kekhususan yang mereka miliki.

Sebagai satu dari seribu dua ratus pendidik dan tenaga kependidikan yang diberi kesempatan belajar ke luar negeri oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan Maret kemarin, saya beserta dua puluh satu rekan guru berkesempatan belajar tentang pendidikan inklusif dengan nama pelatihan Teacher Training on Inclusive Education di Prefektur Okayama, Jepang. Selama dua puluh satu hari belajar belajar di Jepang, banyak ilmu bermanfaat yang kami terima khususnya tentang pendidikan inklusif.

Di Jepang, secara umum pendidikan inklusif terbagi menjadi tiga, yaitu: pertama, sekolah luar biasa (SLB) merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus dengan gangguan berat baik secara fisik maupun mental.

Kedua kelas khusus, diperuntukkan bagi siswa dengan gangguan tidak terlalu berat, misal siswa dengan kebutuhan khusus berupa slow learner. Kelas ini merupakan kelas terpisah, tetapi ada waktu tertentu kelasnya digabung dengan kelas reguler sehingga siswa di kelas ini dapat berinteraksi dengan siswa normal. Kelas ini biasanya paling banyak ditempati oleh siswa dengan kebutuhan khusus berupa autism dan intelektual disabilitas dan gangguan emosional.

Ketiga, kelas bimbingan khusus, siswa yang belajar disini ada program pertukaran kelas dan penggabungan kelas, untuk menunjangnya disediakan kursi, meja atau loker untuk siswa berkebutuhan khusus. Misal, anak berkemampuan normal tetapi dalam berbicara dia tidak terlalu lancar (gagap), maka meski dia belajar/dikumpulkan di kelas reguler, tetapi terkadang mengikuti pelajaran khusus tentang bahasa di kelas bimbingan khusus, setelah selesai belajar di kelas bimbingan khusus dia akan kembali ke kelas reguler, karena pada dasarnya dia adalah siswa normal, hanya perlu bimbingan khusus tentang kebahasaan.

Dengan program ini maka timbul rasa pengertian antara siswa normal dan berkebutuhan khusus tersebut. Meskipun demikian, tidak semua siswa berkebutuhan khusus dapat digabungkan, hanya learning disabilitas, sindrom asperger dan hyperactivity disorder yang bisa digabung.

Cari Penyebab, Bukan Menghukum

Di Jepang, guru dituntut mengetahui penyebab anak sulit belajar dan mencari solusinya bukan menghukum siswa yang sulit belajar, beberapa penyebab dan solusinya antara lain: impulsivity, solusinya guru harus menimbulkan motivasi belajar sehingga anak ingin melakukan sendiri.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved