Kriminalitas Regional

Penganiaya Siswi SMP Minta Maaf Usai Berperilaku Aneh, Presiden Minta Kapolri Usut Tuntas

Tutup kepala dan masker belum cukup untuk mereka. Tujuh remaja putri penganiaya itu terus menunduk saat diperlihatkan di Mapolresta Pontianak, Rabu.

Penganiaya Siswi SMP Minta Maaf Usai Berperilaku Aneh, Presiden Minta Kapolri Usut Tuntas
Capture/Banjarmasin Post Edisi Cetak
Harian Banjarmasin Post edisi Kamis (11/4/2019) Halaman 1 

Sementara ini polisi telah menetapkan tiga siswi SMA berinisial TP, NN dan FZ sebagai tersangka. Mereka dijerat dengan UU Perlindungan Anak.

"Dari hasil pemeriksaan, akhirnya kami menetapkan tiga orang sebagai tersangka, sementara lainnya sebagai saksi," kata Kapolresta Pontianak Kombes Muhammad Anwar Nasir.

Baca: Respons Keras Presiden Jokowi Sikapi Pengeroyokan Audrey yang Viral di Medsos, Sebut Sedih & Marah

Baca: Video Klarifikasi & Pengakuan 7 Siswi SMA Soal Kasus Penganiayaan Audrey, Siswi SMP di Pontianak

Baca: Janji Atta Halilintar ke Audrey dan Penetapan Tersangka Terduga Pelaku Pengeyokan Siswi SMP

Penetapan tersebut, kata Anwar, berdasarkan hasil pemeriksaan polisi. Ketiga tersangka mengakui penganiayaan, tetapi tidak melakukan pengeroyokan.

Anwar pun menjelaskan sesuai UU Nomor 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak maka dilakukanlah diversi (pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana).

"Baik korban dan tersangka sama-sama anak-anak, sehingga semua tahapan harus didampingi oleh pihak orangtua dan KPPAD Kalbar sesuai dengan hak mereka," katanya.

Kasus ini menarik perhatian nasional. Pakar Hukum Tata Negara Prof Mahfud MD mengatakan dalam hukum pidana tidak ada istilah damai atau meminta maaf. Semua harus ditindak dengan tegas sesuai hukum.

Sedang Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengecam tindakan para tersangka. “Mirisnya lagi, bukan hanya korban tapi pelaku juga masih berusia anak," kata Yohana.

"Boleh jadi kasus ini terjadi karena luputnya pengawasan orang dewasa. Ada yang keliru pada sikap anak-anak kita, berarti juga ada yang keliru pada kita sebagai orang dewasa yang merupakan contoh bagi anak-anak,” ungkap Yohana.

Walau dengan alasan dan kondisi apapu termasuk usia yang masih anak-anak, Yohana menilai tindakan para tersangka tidak pernah bisa dibenarkan. Prinsip Zero Tolerance bagi seluruh pelaku kekerasan pada anak harus ditegakkan.

Dia pun berharap kasus ini tetap dikawal sampai selesai dan menemukan jalan terbaik bagi semua pihak. Menteri Yohana harap kedua pihak bisa diberikan pendampingan. Korban didampingi untuk mengatasi trauma, sedangkan tersangka didampingi untuk pemulihan pola pikir atas tindakan yang telah dilakukan.

Halaman
123
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved