Cuaca Ekstrem

Hujan Es Terjadi di Desa Bajui, ini Penjelasa Kepala BMKG Syamsuddin Noor

Hujan es di Kecamatan Bajuin Kabupaten Tanahlaut, Sabtu (13/4), menarik perhatian banyak kalangan di Kalsel termasuk Badan Meteorologi Klimatologi

Hujan Es Terjadi di Desa Bajui, ini Penjelasa Kepala BMKG Syamsuddin Noor
BPost Cetak
BPost edisi cetak Minggu (14/4/2019) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Hujan es di Kecamatan Bajuin Kabupaten Tanahlaut, Sabtu (13/4), menarik perhatian banyak kalangan di Kalsel termasuk Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Syamsuddin Noor Banjarbaru.

Kepala BMKG Syamsuddin Noor Banjarbaru, Karmana, menerangkan hujan es dapat terjadi di daerah garis khatulistiwa, yang beriklim tropis.

Bahkan hujan es bisa terjadi pada saat kemarau.

"Hujan es bukanlah fenomena yang aneh dan langka di Indonesia. Hujan es juga pernah terjadi di Bandung, Banjarnegara, Medan, Madiun, Sumatera Barat,” kata Karmana.

Namun ukuran es yang jatuh dapat berbeda-beda.

Baca: Maia Estianty Tuliskan Syarat Calon Presiden RI, Istri Irwan Mussry Tak Sebut Jokowi atau Prabowo

Baca: Suara Hujan Beda dari Biasanya, Setelah Dicek Ternyata Butiran ini yang Jatuh

Baca: Aurel Dukung Sandiaga Uno, Ashanty Tak Masalah Beda Pilihan dengan Putrinya dan Anang Hermansyah

Baca: Alasan Nikita Mirzani Berani Julid ke Syahrini Diungkap Denny Darko

"Berbahaya jika ukurannya besar seperti yang terjadi di Sumatera Barat pada Mei 2014. Hujan es menyebabkan puluhan rumah rusak," kata Karmana.

Diterangkan Karmana, hujan es dalam ilmu meteorologi disebut hail.

“Jatuhnya bola-bola es terjadi karena pencairan uap air terjadi pada lapisan yang berada di atas level beku. Biasanya, es yang awalnya berukuran besar saja yang sampai ke bumi," kata Karmana.

Oleh karena mencair, hujan es disertai hujan air.

"Biasanya hujan es terjadi beberapa menit saja. Selanjutnya kembali ke hujan biasa. Hujan es biasanya juga disertai puting beliung,” katanya.

Hujan ini biasanya terjadi pada awan berlapis-lapis yang menjulang ketinggian lebih dari 30.000 kaki.

"Jenis awan yang bentuknya berlapis-lapis menyerupai kembang kol ini disebut dengan awan Cumulonimbus atau CB yang juga merupakan musuh terbesar para pilot pesawat," kata Karmana.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved